Brazil 4-1 USA

Brazil 4-1 USA

Iklan

TUGAS S. ENDOKRIN

Asidosis Metabolik Defenisi Asidosis Metabolik adalah suatu keadaan dimana keasaman darah yang berlebihan, ditandai dengan rendahnya kadar bikarbonat dalam darah. Bila peningkatan keasaman melampaui sistem penyangga pH, darah akan benar-benar menjadi asam. keadaan ini menyebabkan penurunan pH darah, pernafasan menjadi lebih cepat dan lebih dalam sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara menurunkan jumlah CO2, dan pada akhirnya, ginjal ikut berusaha mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam dalam air kemih. Namun kedua usaha tubuh tersebut bisa terlampaui apabila tubuh terus menerus menghasilkan asam terlalu banyak, sehingga terjadi asidosis berat dan berakhir dengan keadaan koma. Penyebab Ada tiga kelompok utama yang menyebabkan asidosis metabolik, yaitu : 1. Jumlah asam dalam tubuh dapat meningkat jika mengkonsumsi suatu asam atau suatu bahan yang diubah menjadi asam. Sebagian besar bahan yang menyebabkan asidosis bila dimakan dianggap beracun. Contohnya adalahzat anti beku (etilen glikol) dan metanol (alkohol kayu). Overdosis aspirin juga dapat menyebabkan asidosis metabolik. 2. Asidosis metabolik bisa terjadi jika ginjal tidak mampu untuk membuang asam dalam jumlah yang semestinya. Bahkan jumlah asam yang normalpun bisa menyebabkan asidosis jika ginjal tidak berfungsi secara normal. Kelainan fungsi ginjal ini dikenal sebagai asidosis tubulus renalis, yang bisa terjadi pada penderita gagal ginjal atau penderita kelainan yang mempengaruhi kemampuan ginjal untuk membuang asam. 3. Tubuh dapat menghasilkan asam yang lebih banyak melalui metabolisme. Tubuh dapat menghasilkan asam yang berlebihan sebagai suatu akibat dari beberapa penyakit; salah satu diantaranya adalah diabetes melitus tipe I. Jika diabetes tidak terkendali dengan baik, tubuh akan memecah lemak dan menghasilkan asam yang disebut keton. Asam yang berlebihan juga ditemukan pada syok stadium lanjut, dimana asam laktat dibentuk dari metabolisme gula. Jadi bisa kita simpulkan penyebab utama dari asidosis metabolik yaitu : gagal ginjal, kelainan bentuk ginjal (Asidosis Tubulus Renalis), Ketaoasidosis Dieabetikum, Betambahnya asam laktat (Asidosis Laktat), Kehilangan basa (misalnya bikarbonat) melalui saluran pencernaan karena diare, ileostomi atau kolostomi, dan Bahan beracun seperti etilen glikol, overdosis salisilat, metanol, paraldehid, asetazolamid atau amonium klorida Sekarang kita beralih ke Asidosis Respiratorik Asidosis Respiratorik adalah keasaman darah yang berlebihan karena penumpukan CO2 dalam darah sebagai akibat dari fungsi paru-paru yang buruk atau pernafasan yang lambat. Kedalaman dan kecepatan nafas mengendalikan jumlah CO2 dalam darah. Dalam keadaan normal, jika terkumpul CO2, pH darah menurun dan darah menjadi asam. Tingginya kadar CO2 dalam darah merangsang otak yang mengatur pernafasan, sehingga pernafasan menjadi lebih cepat dan lebih dalam. Penyebab : Asidosis respiratorik terjadi jika paru-paru tidak dapat mengeluarkan CO2 secara adekuat. Hal ini dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit berat yang mempengaruhi paru-paru, seperti: Cronic Bronchitis, Pneumonia Berat, Emfisema, Edema pulmoner, dan Asma. Asidosis respiratorik juga dapat terjadi apabila penyakit-penyakit dari saraf atau otot dada menyebabkan gangguan terhadap mekanisme pernafasan. Selain itu, ketergantungan terhadap narkotika dan obat tidur yang kuat juga bisa menyebabkan asidosis respiratorik. Asidosis respiratorik ditandai dengan sakit kepala dan rasa kantuk. Jika keadaanya memburuk rasa mengantuk akan berlanjut menjadi stupor (penurunan kesadaran) dan koma. Stupor dan koma dapat terjadi dalam beberapa saat jika pernapasan terhenti atau jika pernapasan sangat terganggu atau setelah berjam-jam. Jika pernapasan tidak terlalu terganggu. Alkalosis Acidosis Metabolik Respiratorik Alkalosis Acidosis Metabolik Respiratory – MAKALAH KEPERAWATAN dan BIOKIMIA PERAWAT | askep kapukonline.com. Setelah sebelumnya posting tentang ( Baca : Biokimia Perawat Lipid Edisi 1 dan Biokimia Perawat Lipid Edisi 2) Keseimbangan asam dan basa dalam tubuh sangat penting untuk mempertahankan proses kehidupan. Kadar kimia asam basa sukar dipisahkan dengan konsentrasi ion H+. Konsentrasi ion H+ dalam berbagai larutan dapat berubah dan perubahan ini dapat disebabkan oleh berbagai macam gangguan fungsi sel. Beberapa Pengertian 1. Asam : Suatu cairan yang mampu mengeluarkan / melepaskan H+ (donor proton). 2. Basa : Suatu cairan yang mampu menerima H+ (akseptor proton). 3. pH : Menyatakan konservasi H+ dalam larutan yaitu menunjukkan kekuatan asam atau basa. 4. Secara sistematik pH = Logaritma negatif dari konsentrasi H+ (pH : – Log H+). 5. Harga normal pH : 7.35 – 7.45 6. Bila H+ naik : pH rendah, maka cairan lebih asam 7. Bila H+ turun : pH Tinggi, maka cairan lebih basa 8. Asidema : Suatu keadaan dimana pH darah kurang dari 7.35 9. Asidosis : Proses yang menyebabkan terjadinya asidema 10. Alkalomia : Suatu kondisi dimana pH darah lebih dari 7. 45 11. Alkalosis : Proses yang menyebabkan alkalomia 12. PaO2: Tekanan Parsiil O2 di dalam darah arteri Normal: 80- 100 mmHg 13. PaCO2: Tekanan Partiil CO2 dalam arteri. Normal 35- 45 mmHg 14. HCO3 dalam pemeriksaan AGD: Konsentrasi HCO3 dalam plasma darah. Normal: 22-26 meq/l. 15. Saturasi O2 (SaO2): Kejenuhan O2 dalam darah arteri. Normal: 95- 100% 16. Base Exess (BE): Jumlah milt equivalent dari asam atau basa yang dibutuhkan atau titrasi dalam darah mencapai pH: 7.4 pada temperatur 37°C dan PCO2 40 mmHg. Normal: -2 sampai 2 17. HCO3 dalam pemeriksaan Analisa Gas Darah: Konsentrasi HCO3 dalam plasma darah. Normal: 22- 26 meq/l. Henderson- hesecbach eqitasion menggambarkan hubungan antara pH, PaO2 dan PaCO2. PH= LOGHCO3 CO2 PENGATURAN Seseorang dapat merubah konsentrasi CO2 dalam cairan tubuh dengan mempercepat atau memperlambat kecepatan pernafasan (Respirasi/RR). Di lain pihak, ginjal mampu meningkatkan atau merendahkan konsentrasi HCO3 dalam cairan tubuh. Dengan kedua cara regulasi ini, pH dapat disesuaikan dengan keadaan normal. Pengaturan keseimbangan untuk mengatasi asidosis dan alkalosis melalui sistem kontrol yang bekerja sbb : 1. Mengikat asam atau basa pada sistem buffer 2. Jika konsentrasi H+ sangat rendah mengaktifkan pusat pernafasan untuk merubah ventilasi pulmonal 3. Kerja ginjal untuk mengeluarkan urin yang asam atau basa untuk menyesuaikan konsentrasi H+ agar tubuh normal kembali Tugas buffer adalah memberikan suasana yang seimbang atau homeostatis mekanisme 1. Sistem buffer Bicarbonat : HCO3 terbentuk dalam tubuh sbb: 1. CO2 dan H2O———————— H2 CO3 2. H2CO3 H+ + HCO3 ————H2CO3—— CO2 +H2O Sistem paling penting bagi darah dan jaringan adalah garam sodium Bicarbonat NaHCO3 dan asam bicarbonat H2CO3 Normal: Ratio Konsentrasi HCO3- : H2CO3 = 20:1 2. Buffer Phospat 1. Terdiri dari 2 elemen: NaH2PO4 dan Na2 HPO4. 2. Bila terdapat asam kuat (HCl) maka terjadi: HCl + Na2HPO4—Na2HPO4+ NaCl 3. Buffer sistem ini sangat penting dalam cairan tubulus ginjal dan intraseluler, tetapi pada cairan ekstraseluler konsentrasinya lebih rendah daripada Bicarbonat Buffer. 3. Buffer Protein merupakan sistem yang terkuat dalam tubuh 1. Protein terdiri dari bermacam asam amino yang mempunyai asam bebas (COOH) yang dapat berdisosiasi menjadi COO- dan H+ 2. Mempunyai NH3OH yang dapat terdisosiasi mejadi NH3+ dan OH- 3. OH- dapat bereaksi dengan H+ membentuk H2O Konsentrasi H+ mengaktifkan pusat pernafasan Paru-paru mengontrol kadar CO2 dan H2CO3 dalam cairan ekstra sel, serta mengatur ventilasi sesuai dengan jumlah CO2 dalam darah Misalnya PaCO2 —– merangsang pusat pernafasan. Paru- paru juga akan mengadakan kompensasi terhadap gangguan metabolik dengan cara menahan CO2. Bila terjadi acidosis metabolik, maka Respirasi meningkat sehingga pengeluaran CO2 meningkat Bila alkalosis metabolik RR menyebabkan CO2 tertahan Kerja ginjal dalam mengeluarkan urin untuk keseimbangan PH Ginjal mengatur kadar bicarbonat dalam cairan ekstra seluler dengan cara reabsorbsi di tubulus renalis. Pada asidosis respiratorik dan metabolik, ginjal akan mengekresi H+ dan menahan HCO3- utk mempertahankan keseimbangan GANGGUAN KESEIMBANGAN ASAM BASA 1. Asidosis Respiratorik Terjadi karena kegagalan sistem pernafasan mengeluarkan CO2 dengan meningkatkan CO2 maka konsentrasi H+ dan PH ? 1. Penyebab / Etiologi : 1. Over dosis obat 2. Trauma dada dan kepala 3. Edema paru- paru 4. Obstruksi jalan nafas 5. PPOM 2. Manifestasi klinis : 1. Pada keadaan hipoventilasi CO2 tertahan dan akan berikatan H2O menyebabkan meningkatnya HCO3. 2. H2CO3 akan berdisosiasi enjadi H+ dan HOO– sehingga dalam analisa gas darah didapatkan PaCO2 meningkat dan PH turun. 3. PH yang rendah disertai meningkat 2.3 DPG intra seluler sel darah sehingga mempermudah pelepasan O2 ke jaringan sehingga saturasi turun. 4. PCO2 meningkat, CO2 jaringan dan otak juga meningkat. CO2 akan bereaksi dengan H2O membentuk H2CO3. 5. Meningkatnya PaCO2 dan H+ akan menstimulasi pusat pernafasan di medulla Oblongata sehingga timbul hiperventilasi. Secara klinis akan tampak respirasi cepat dan dalam Analisa Gas Darah (AGD): PaCO2 turun. 6. Pusing, bingung, letargi, muntah sebagai akibat dari penurunan CO2 dan H+ akan mengakibatkan pembuluh darah cerebral. 7. Aliran darah cerebral meningkat sehingga terjadi oedema otak dan mendepresi Susunan Saraf Pusat 8. Gagalnya mekanisme pernafasan dan meningkatnya PaCO2 akan menstimulasi ginjal untuk meningkatkan NaHCO3 yang berfungsi sebagai sistem buffer mejadi lebih asam. Hal ini urin menjadi asam dan HCO3 meningkat, pernafasan dangkal dan lambat. 9. Meningkatnya ion H+ mempengaruhi mekanisme kompensasi sehingga H+ masuk intrasel dan Kalium (K) intrasel masuk ke dalam plasma. 10. Ketidakseimbangan elektrolit dan asidosis yang kritis akan mendepresi otak dan fungsi jantung. Secara klinis akan tampak: PaCO2 menurun, PH turun, hiperkalemia, penurunan kesadaran dan aritmia. 2. ALKALOSIS RESPIRATORIK Terjadi pada gangguan sistem respirasi mengeluarkan CO2 yang berlebihan sebagai upaya untuk mengurangi hipoxia. Konsekuensi penurunan CO2 di bawah minimal menyebabkan konsentrasi ion H+ berkurang sehingga meningkatkan PH darah. 1. Etiologi : 1. Kecemasan 2. Lesi paru 3. PPOM 4. Keracunan salicilat 5. Penggunaan ventilasi 6. High Attitude 2. Manifestasi Klinis : 1. Penurunan PaCO2 berakibat Penurunan H2CO3, penurunan H+ dan HCO3 -, serta meningkatkan PH darah sehingga AGD: PH naik, PaCO2 turun dan HCO3 turun 2. Meningkatnya K+ dalam serum, H+ intrasel keluar dan diganti K yang ada dalam ekstrasel. H+ bergabung dengan HCO3- menjadi H2CO3 yang berakibat PH semakin rendah. AGD: PH turun, HCO3 naik dan K turun 3. Hipokapnia akan merangsang Carotik dan aortik dan aortic bodiea—– frekuensi denyut jantung naik tanpa naiknya tekanan darah, perubahan EKG dan kelelahan 4. Pada saat yang bersamaan, terjadi vasokonstriksi cerebral dan tururnnya perfusi darah ke otak dengan gejala: Kecemasan, dispnea, keringat dingin, pernafasan cheyne stokes, pusing dan kesemutan. 5. Jika hipokapnia lebih dari 6 jam, ginjal akan meningkatkan sekresi HCO3 dan menurunkan ekskresi H+ 6. Keadaan PaCO2 yang turun terus menerus menyebabkan vasokonstriksi — meningkatkan hipoxia serebral dan perifer. 7. Alkalosis berat, Hambatan ionisasi Ca meningkatkan eksitasi syaraf dan konstraksi otot dengan gejala: Kejang, hiperefleksi, koma. 3. ASIDOSIS METABOLIK Menurunnya PH dan HCO3. Hal ini disebabkan oleh tertahannya H+ dan hilangnya HCO3. Menurunnya HCO3 disebabkan oleh : 1. HCO3 digunakan untuk menanggualangi asam organiksbg hasil metabolisme (Ct as. Laktat, asam piruvat, asam asetoasetat dan hidroksi butirat) sehingga H2CO3 bertambah, sehingga tubuh melakukan kompensasi sbb: 1. Sistem Buffer akan menurunkan H2 CO3 dg cara ion H+ kepada sistem buffer yang lain shg meningkatkan kadar bikarbonat atau plasma. 2. Paru- paru: Karena H2CO3 atau PaCO2 naik—– merangsang pusat pernafasan, shg tjd hiperventilasi 3. Ginjal: Berusaha mengembalikan Bicarbonat dg cara memobilisasi H+ di tubulus proximal, sekresi H+ di tubuli distal dan poembentukan NH3 di tubulus distal 2. Keadaan ini terjadi pada ketosis : 1. Sebagai akibat gangguan metabolisme (ct. DM) sehingga metabolisme lemak naik. Sehingga banyak terbentuk benda keton yang bersifat asam. 2. Tiroksitosis: Muntah yang banyak dan lama: menyebabkan cadangan hidrat arang menurun 3. Kegagalan ginjal untuk mengekresi ion- ion fosfat dan asam yang lain, dengan lain perkataan bahan jadi gangguan pertukaran H+ dan – serta adanya retensi asam tsb. 4. ALKALOSIS METABOLIK Ditandai dengan naiknya PH dan naiknya konsentrasi HCO3- dalam plasma. Etiologi: Tertahannya HCO3- atau kehilangan H+ Kompensasi tubuh : 1. Sistem Buffer : Komponen HCO3- akan bereaksi dg sistem Buffer yang lain, shg akan berusaha meningkatnya kadar H2CO3 sbg komponen sistem buffer karbonat. 2. Paru- paru: karena PH naik, maka pusat pernafasan akan ditekan sg terjadi pernafasan yang lambat dan upaya peningkatan H2CO3 3. Ginjal akan berusaha mengurangi sekresi pertukaran H+ dan Na+ sehingga ekresi NaHCO3 dan HPO4 naik, yang berarti pengasaman urine berkurang. Disamping itu ekresi NH+ di tubulus distal dan asam-asam hasil metabolisme juga dikeluarkan. Alkalosis metabolik dapat ditemukan pada defisit kalium melalui 2 cara : 1. Ginjal akan menahan K dan meningkatkan ekresi H+ 2. K+ intrasel akan berpindah menuju ekstrasel yang menyebabkan H+ berpindah ke intrasel, sehingga K serum tetap dalam batas normal. Keadaan ini terjadi : penyakit Cushing akibat terapi kortikosteroid, intake K yang kurang. Penanganan Gangguan Keseimbangan Asam Basa 1. Mengembalikan nilai PH pada keadaan normal 2. Koreksi keadaan asidosis repiratorik: Naiknya ventilasi dan mengoreksi penyebab 3. Koreksi keadaan alkalosis respiratorik: turunnya ventilasi dan terapi penyebab 4. Koreksi keadaan asidosis metabolik: 1. Pemberian Bicarbonat IV / oral 2. Terapi penyebab 3. Koreksi keadaan alkalosis metabolik dengan cara: memberi KCl dan mengobati penyebab Alkalosis Respiratorik adalah suatu keadaan dimana darah menjadi basa karena pernafasan yang cepat dan dalam menyebabkan kadar karbondioksida dalam darah menjadi rendah. Sumber: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/2102166-alkalosis-respiratorik/#ixzz1wTBDMZnt dan kreatinin yang diatas normal, tetapi pada hasil pemeriksaan USG ginjal tidak tampak gangguan yang berarti. Awal pasien itu masuk adalah menderita Hipetensi, tapi setelah ,melihat hasil pemeriksaan laboratoriumnya yang memberikan nilai ureum dan kreatinin yang tinggi, muncul fikiran, apakah pasien ini menderita gangguan ginjal atau tidak. 1. PENGERTIAN Beberapa pengertian tentang ureum dan kreatinin: Ureum adalah hasil akhir metabolisme protein. Berasal dari asam amino yang telah dipindah amonianya di dalam hati dan mencapai ginjal, dan diekskresikan rata-rata 30 gram sehari. Kadar ureum darah yang normal adalah 20 mg – 40 mg setiap 100 ccm darah, tetapi hal ini tergantung dari jumlah normal protein yang di makan dan fungsi hati dalam pembentukan ureum. Kreatinin merupakan produk sisa dari perombakan kreatin fosfat yang terjadi di otot. Kreatinin adalah zat racun dalam darah, terdapat pada seseorang yang ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan normal. Kadar kreatinin pada pria max 1,6 kalau sudah melebihi 1,7 harus hati-hati. Jangan-jangan nanti memerlukan cuci darah Kreatinin: hasil katabolisme kreatin. Koefisien kreatinin adalah jumlah mg kreatinin yang diekskresikan dalam 24 jam/kg BB. Nilai normal pada laki-laki adl 20-26 mg/kg BB. Sedang pada wanita adl 14-22 mg/kg BB. Ekskresi kreatinin meningkat pada penyakit otot. Kreatinin adalah produk sampingan dari hasil pemecahan fosfokreatin (kreatin) di otot yang dibuang melalui ginjal. Pada pria, normalnya 0,6 – 1,2 mg/dl. Di atas rentang itu salah satunya mengindikasikan adanya gangguan fungsi ginjal. Tetapi kami rasa angka 1,3 mg/dl masih tergolong normal, walaupun Anda sebaiknya mulai waspada. 2. BATAS NORMAL Batas normal ureum : 20 – 40 mg/dl Batas normal kreatinin : 0,5 – 1,5 mg/dl 140-umurXbb/72xurine kreatinin klinersxo,85