Manchester United Reserves 2012/2013 Full Squad

-
Sam Johnstone Sam Johnstone
Keeper
19 ? 2011 to 2013 Manchester United U18
Luke McCullough Luke McCullough
Centre Back
18 ? ?
Sean McGinty Sean McGinty
Centre Back
19 left 1,85 ?
-
Scott Wootton Scott Wootton
Centre Back
21 right ? ? Previous market value: 75.000 € (30.05.2012) Market value - development: Scott Wootton
-
Michael Keane Michael Keane
Centre Back
19 ? since 2011 Manchester United U18 Previous market value: 100.000 € (06.07.2012) Market value - development: Michael Keane
-
Tom Thorpe Tom Thorpe
Centre Back
19 ? since 2011 Manchester United U18
-
Frédéric Veseli Frédéric Veseli
Centre Back
19 right 1,83 since 2011 Manchester City Reserves Previous market value: 100.000 € (30.05.2012) Market value - development: Frédéric Veseli
-
Michele Fornasier Michele Fornasier
Centre Back
19 ? since 2011 Manchester United U18
Tyler Blackett Tyler Blackett
Fullback, left
18 1,86 ?
Rafael Leão Rafael Leão
Fullback, left
19 left ? 2011 to 2012
-
Marnick Vermijl Marnick Vermijl
Fullback, right
20 1,80 2009 to 2013 Standard Lüttich Jugend
-
Jesse Lingard Jesse Lingard
Midfield
19 ? since 2011 Manchester United U18
-
Ryan Tunnicliffe Ryan Tunnicliffe
Defensive Midfield
19 ? to 2013 Previous market value: 75.000 € (30.05.2012) Market value - development: Ryan Tunnicliffe
-
Larnell Cole Larnell Cole
Midfield, right
19 ? since 2011 Manchester United U18
-
Davide Petrucci Davide Petrucci
Attacking Midfield
20 both 1,84 since 2009 Manchester United U18
-
Robert Brady Robert Brady
Right Wing
20 both ? ? Previous market value: 100.000 € (30.05.2012) Market value - development: Robert Brady
-
Joshua King Joshua King
Centre Forward
20 both 1,85 since 2011 Manchester United U18 Previous market value: 250.000 € (30.05.2012) Market value - development: Joshua King
-
William Keane William Keane Cruciate Ligament Rupture: unknown
Centre Forward
19 ? 2011 to 2013 Manchester United U18
Iklan

Sistem Muskuloskeletal

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.         Latar Belakang
Konsep gerak tidak hanya diartikan sebagai perpindahan tempat saja akan tetapi gerakan dari bagian-bagian tubuh disebut juga sebagai suatu gerakan. Contohnya, pada saat kita menulis, kita tidak berpindah tempat hanyatangan kita saja yang bergerak. Pada saat kita menulus, kita dikatakan juga sedang bergerak.
            Manusia bergerak berpindah tempat atau hanya menggerakkan bagian tubuhnya saja sesuai dengan keinginananya. Gerakan tubuh manusia terjadi karena adanya kerjasama anatar tulang danotot. Tulang tidak mempunyai kemampuan untuk menggerakkan dirinya, oleh karena itu tulang disebut sebagai alat gerak pasif. Sednagkan otot mempunyai kemmapuan untuk berkontraksi dan berelaksasi sehingga dapat menggerakkan tulang, oleh karena itu otot disebut sebagai alat gerak pasif.
Sistem muskuloskeletal merupakan sistem tubuh yang terdiri dari otot (muskulo) dan tulang-tulang yang membentuk rangka (skelet). Otot adalah jaringan tubuh yang mempunyai kemampuan mengubah energi kimia menjadi energi mekanik (gerak). Sedangkan rangka adalah bagian tubuh yang terdiri dari tulang –tulang yang memungkinkan tubuh mempertahankan bentuk, sikap dan posisi. Sistem muskuloskeletal memberi bentuk bagi tubuh. Sistem muskuloskeletal melindungi organ-organ penting, misalnya otak dilindungi oleh tulang-tulang tengkorak, jantung dan paru-paru terdapat pada rongga dada (cavum thorax) yang dibentuk oleh tulang-tulang kostae (iga).
1.2.         Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.Apa itu sistem musculoskeletal ?
2.Bagaimana klasifikasi dan struktur tulang ?
3.Bagaimana struktur anatomi dari aksial skeleton ?
4.Bagaimana struktur dari anatomi apendikular skeleton ?
5.Apa itu articaltion dan body movement ?
6.Bagaimana struktur otot tubuh dan struktur ekstreminitas ?
1.3.         Tujuan
Adapun tujuan penulisan paper ini adalah :
1.      Agar mahasiswa mampu memahami mengenai definisi system muskuloskeletal.
2.      Mahasiswa mampu memahami pengklasifikasian dan struktur dari tulang.
3.      Mahasiswa mengetahui struktur anatomi dari aksial skeleton.
4.      Mahasiswa mampu menjelaskan struktur dari apendikular skeleton.
5.      Mahasiswa mampu mengerti dan memahami articaltion dan body movement.
6.      Mahasiswa mampu memahami struktur otot tubuh dan struktur ekstreminitas.
1.4.         Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan paper ini adalah :
1.      Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui mengenai pengertian dari system muskuloskeletal.
2.      Dapat dijadikan sebagai bahan acuan bagi mahasiswa dalam mempelajari pengertian lebih jauh dari system muskuloskeletal itu. .
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi
Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan bertanggung jawab terhadap pergerakan. Komponen utama system musculoskeletal adalah jaringan ikat. Sistem ini terdiri dari
·         Muskuler/Otot : Otot, tendon,dan ligamen
·         Skeletal/Rangka : Tulang dan sendi
Otot adalah jaringan tubuh yang mempunyai kemampuan mengubah energi kimia menjadi energi mekanik (gerak). Sedangkan rangka adalah bagian tubuh yang terdiri dari tulang -tulang yang memungkinkan tubuh mempertahankan bentuk, sikap dan posisi. Sebagai kerangka tubuh sistem muskuloskeletal memberi bentuk bagi tubuh.  Sebagai proteksi sistem muskuloskeletal melindungi organ-organ penting, misalnya otak dilindungi oleh tulang-tulang tengkorak, jantung dan paru-paru terdapat pada rongga dada (cavum thorax) yang dibentuk oleh tulang-tulang kostae (iga).
2.2. Klasifikasi dan Struktur Tulang (Skeletal)
Skeletal disebut juga sistem rangka, yang tersusun atas tulang-tulang. Tubuh kita memiliki 206 tulang yang membentuk rangka. Bagian terpenting adalah tulang belakang.
Fungsi Sistem Skeletal :
1. Memproteksi organ-organ internal dari trauma mekanis.
2. Membentuk kerangka yang yang berfungsi untuk menyangga tubuh dan otot-otot yang.
3. Melekat pada tulang
4. Berisi dan melindungi sum-sum tulang merah yang merupakan salah satu jaringan pembentuk darah.
5. Merupakan tempat penyimpanan bagimineral seperti calcium dari dalam darah misalnya.
6. Hemopoesis
2.2.1. Struktur Tulang
Secara makroskopis tulang terdiri dari dua bagian yaitu pars spongiosa (jaringan berongga) dan pars kompakta (bagian yang berupa jaringan padat). Permukaan luar tulang dilapisi selubung fibrosa (periosteum); lapis tipis jarigan ikat (endosteum) melapisi rongga sumsum dan meluas ke dalam kanalikuli tulang kompak.
Membran periosteum berasal dari perikondrium tulang rawan yang merupakan pusat osifikasi. Periosteum merupakan selaput luar tulang yang tipis. Periosteum mengandung osteoblas (sel pembentuk jaringan tulang), jaringan ikat dan pembuluh darah. Periosteum merupakan tempat melekatnya otot-otot rangka (skelet) ke tulang dan berperan dalam memberikan nutrisi, pertumbuhan dan reparasi tulang rusak.
Pars kompakta teksturnya halus dan sangat kuat. Tulang kompak memiliki sedikit rongga dan lebih banyak mengandung kapur (Calsium Phosfat dan Calsium Carbonat) sehingga tulang menjadi padat dan kuat. Kandungan tulang manusia dewasa lebih banyak mengandung kapur dibandingkan dengan anak-anak maupun bayi. Bayi dan anak-anak memiliki tulang lebih banyak mengandung serat-serat sehingga lebih lentur. Tulang kompak paling banyak ditemukan pada tulang kaki dan tulang tangan.
Pars spongiosa merupakan jaringan tulang yang beronga seperti spons (busa). Rongga tersebut diisi oleh sumsum merah yang dapat memproduksi sel-sel darah. Tulang spongiosa terdiri dari kisi-kisi tipis tulang yang disebut trabekula.
Secara Mikroskopis tulang terdiri dari :
1. Sistem Havers (saluran yang berisi serabut saraf, pembuluh darah, aliran limfe)
2. Lamella (lempeng tulang yang tersusun konsentris).
3. Lacuna (ruangan kecil yang terdapat di antara lempengan–lempengan yang mengandung sel tulang).
4. Kanalikuli (memancar di antara lacuna dan tempat difusi makanan sampai ke osteon).
2.2.2. Klasifikasi Tulang
            Berdasarkan bahan pembentuknya :
1.      Tulang Rawan
Tulang rawan dibentuk oleh kondrosit (sel tulang rawan) dam matriks bahan dasar). Matriks tulang rawan tersusun dari kondrin, kolagen, dan kalsium. Tulang rawan ditemukan terutama pada sendi dan di antara dua tulang. Tulang rawan dibedakan menjadi 3, yaitu :
a). Tulang Rawan Hialin
            Mempunyai matriks yang transparan. Merupakan jenis tulag rawan yang paling banyak terdapat di dalam tubuh mausia. Banyak terdapat di  hidung, sendi gerak dan ujung tulang rusuk.
b) Tulang Rawan Fibrosa
            Mempunyai matriks yang berisi kolagen yang kaku. Merupakan jenis tulang rawan yang dapat dijumpai di bagian tubuh yang memerlukan kekuatan besar, mislanya pada ruas tulang belakang dan lutut.
c) Tulang Rawan Elastik
            Tulang rawan elastik terbentuk dari serabut elastik yang lentur. Tulang rawan ini tidak akan mengalami perubahan menjadi tulang keras, meskipun orang tersebut telah dewasa. Banyak dijumpai di dalam telinga, cuping hidung dan epiglotis.
2.      Tulang Keras
Tulang ini berasal dari tulang rawan yang mengalai asifikasi (pengerasan), dibentuk oleh asteosit yang banyak mengeluarkan matriks. Matriks tulang keras mengandung sedikit kolagen dan mengandung banyak kalsium dan fosfor. Kalsium dan fosfor yang terkandung dalam matriks menyebabkan tulang menjadi keras dan tidak lentur.
            Berdasarkan penyusunnya :
1.      Tulang Kompak
è Padat, halus dan homogen
è Pada bagian tengah terdapat medullary cavity yang mengandung “yellow bone marrow”
è Tersusun atas unit : Osten à Haversian System
è Pada pusat osteon mengandung saluran (Haversian Kanal) tempat pembuluh darah dan saraf yang dikelilingi oleh lapisan konsentrik (lamellae).
è Tulang kompak dan spongiosa dikelilingi oleh mebarn tipis yang disebut periosteur, membran ini mengandung :
~        Bagian luar percabangan pembuluh darah yang masuk ke dalam tulang.
~        Osteoblas.
2.      Tulang Spongiosa
è Tersusun atas “honeycomb” network yang disebut trabekula.
è Struktur tersebut menyebabkan tulang dapat menahan tekanan.
è Rongga anatar trebakula terisis “red bone marrow” yang mengandung pembuluh darah yang memberi nutrisi pada tulang.
è Contoh, tulang pelvis, rusuk, tulang belakang, tengkorak dan pada ujung tulang lengan dan paha.
                   Berdasarkan Bentuknya :
1.      Tulang panjang : tulang yang ukuran panjangnya terbesar, contoh : humerus, femur, radius, ulna.
2.      Tulang pendek: tulang yang ukurannya pendek, contoh : tulang pergelangan tangan dan pergelangan kaki.
3.      Tulang pipih : tulang yang ukurannya lebar, contoh : tulang tengkorak kepala, tulang rusuk dan sternum.
4.      Tulang tidak beraturan, contoh : vertebra, tulang muka, pelvis.
2.3. Struktur Anatomi
2.3.1. Struktur Anatomi Aksial Skeleton dan Struktur Anatomi Apendikular Skeleton
Tulang rangka orang dewasa terdiri atas 206 tulang. Tulang adalah jaringan hidup yang akan suplai saraf dan darah. Tulang banyak mengandung bahan kristalin anorganik (terutama garam-garam kalsium) yang membuat tulang keras dan kaku, tetapi sepertiga dari bahan tersebut adalah jaringan fibrosa yang membuatnya kuat dan elastis.
                                                        Anatomi tulang manusia
1. Axial Skeleton (80 tulang)
  1. Tengkorak
22 buah tulang
Tulang cranial (8 tulang)
  • Frontal 1
  • Parietal 2
  • Occipital 1
  • Temporal 2
  • Sphenoid 1
  • Ethmoid 1
Tulang fasial (13 tulang)
  • Maksila 2
  • Palatine 2
  • Zygomatic 2
  • Lacrimal 2
  • Nasal 2
  • Vomer 1
  • Inferior nasal concha 2
Tulang mandibula (1 tlng)
1
  1. Tulang telinga tengah
  • Malleus 2
  • Incus 2
  • Stapes 2
6 tulang
  1. Tulang hyoid
1 tulang
  1. Columna vertebrae
  • Cervical 7
  • Thorakal 12
  • Lumbal 5
  • Sacrum (penyatuan dari 5 tl) 1
  • Korkigis (penyatuan dr 3-5 tl) 1
26 tulang
  1. Tulang rongga thorax
  • Tulang iga 24
  • Sternum  1
25 tulang
2. Appendicular Skeleton (126 tulang)
  1. Pectoral girdle
  • Scapula 2
  • Clavicula 2
4 tulang
  1. Ekstremitas atas
  • Humerus 2
  • Radius 2
  • Ulna 2
  • Carpal 16
  • Metacarpal 10
  • Phalanx 28
60 tulang
  1. Pelvic girdle
  • Os coxa  2 (setiap os coxa terdiri dari penggabungan 3 tulang)
2 tulang
  1. Ekstremitas bawah
  • Femur 2
  • Tibia 2
  • Fibula 2
  • Patella 2
  • Tarsal 14
  • Metatarsal 10
  • Phalanx 28
60 tulang
Total
206 tulang
Aksial Skeleton
Terdiri atas sekelompok tulang yang menyusun poros tubuh dan memberikan dukungan dan perlindungan pada organ di kepala, leher dan badan. Macam-macam skeleton aksial yaitu:
1.       Tulang tengkorak bagian kepala terdiri dari:
è Bagian parietal terletak di bagian tulang dahi.
è Bagian temporal terletak di tulang samping kiri kanan kepala dekat telinga.
è Bagian occipitas terletak pada daerah belakang dari tengkorak.
è Bagian spenoid letaknya berdekatan dengan tulang rongga mata, seperti tulang baji.
è Bagian ethmoid yaitu tulang yang menyususn rongga hidung.
               Tulang-tulang tengkorak merupakan tulang yang menyusun kerangka kepala. Tulang tengkorak tersusun atas 8 buah tulang yang menyusun kepala dan empat belas tulang yang menyusun bagian wajah, tulang tengkorak bagian kepala merupakan bingkai pelindung dari otak. Sendi yang terdapat diantara tulang-tulang tengkorak merupakan sendi mati yang disebut sutura.
2.      Tulang tengkorak bagian wajah terdiri dari:
è Rahang bawah letaknya yaitu menempel pada tulang tengkorak bagian temporal. Hal tersebut merupakan satu-satunya hubungan antar tulang dengan gerakan yang lebih bebas.
è Rahang bawah adalah tulang yang menyusun sebagian dari hidung, dan langit-langit.
è Palatinum (tulang langit-langit) tulang yang menyusun sebagian dari rongga hidung dan bagian atas dari atap rongga mulut.
è Zigomatik yaitu tulang yang ada pada daerah pipi.
è Tulang hidung
è Tulang lakrimal yaitu sekat tulang hidung.
3.      Tulang Dada
Tulang dada termasuk tulang pipih, terletak di bagian tengah dada. Pada sisi kiri dan kanan tulang dada terdapat tempat lekat dari rusuk. Bersama-sama dengan rusuk, tulang dada memberikan perlindungan pada jantung, paru-paru dan pembuluh darah besar dari kerusakan.
Tulang dada tersusun atas 3 tulang yaitu:
è Tulang hulu / manubrium yaitu tulang yang terletak di bagian atas dari tulang dada, tempat melekatknya tulang rusuk yang pertama dan kedua.
è Tulang badan / gladiolus, terletak dibagian tengah, tempat melekatnya tulang rusuk ke tiga sampai ke tujuh, gabungan tulang rusuk ke delapan sampai sepuluh.
è Tulang taju pedang / xiphoid process, terletak di bagian bawah dari tulang dada. Tulang ini terbentuk dari tulang rawan.
4.      Tulang rusuk
Tulang rusuk berbentuk tipis, pipih dan melengkung. Bersama-sama dengan tulang dada membentuk rongga dada untuk melindungi jantung dan paru-paru. Tulang rusuk dibedakan atas tiga bagian yaitu:
è Tulang rusuk sejati berjumlah tujuh pasang. Tulang-tulang rusuk ini pada bagian belakang berhubungan dengan ruas-ruas tulang belakang sedangkan ujung depannya berhubungan dengan tulang dada dengan perantaraan tulang rawan.
è Tulang rusuk palsu berjumlah 3 pasang.Tulang rusuk ini memiliki ukuran lebih pendek dibandingkan tulang rusuk sejati. Pada bagian belakang berhubungan dengan ruas-ruas tulang belakang sedangkan ketiga ujung tulang bagian depan disatukan oleh tulang rawan yang melekatkannya pada satu titik di tulang dada.
è Rusuk melayang berjumlah 2 pasang. Tulang rusuk ini pada ujung belakang berhubungan dengan ruas-ruas tulang belakang, sedangkan ujung depannya bebas.
Tulang rusuk memiliki beberapa fungsi diantaranya:                                                       a). Melindungi jantung dan paru-paru dari goncangan                                        b). Melindungi lambung, limpa dan ginjal, dan                                                           c). Membantu pernapasan
5.      Ruas-ruas tulang belakang
Ruas-ruas tulang belakang disebut juga tulang belakang, disusun oleh 33 buah tulang dengan bentuk tidak beraturan. Ke-33 buah tulang tersebut terbagai atas 5 bagian yaitu:
è Tujuh ruas pertama disebut tulang leher. Ruas pertama dari tulang leher disebut tulang atlas, dan ruas kedua berupa tulang pemutar atau poros. Bentuk dari tulang atlas memungkinkan kepala untuk melakukan gerakan.
è Dua belas ruas berikutnya membentuk tulang punggung. Ruas-ruas tulang punggung pada bagian kiri dan kanannya merupakan tempat melekatnya tulang rusuk.
è Lima ruas berikutnya merupakan tulang pinggang.Ukuran tulang pinggang lebih besar dibandingkan tulang punggung. Ruas-ruas tulang pinggang menahan sebagian besar berat tubuh dan banyak melekat otot-otot.
è Lima ruas tulang kelangkangan (sacrum), yang menyatu, berbentuk segitiga terletak dibawah ruas-ruas tulang pinggang.
è Bagian bawah dari ruas-ruas tulang belakang disebut tulang ekor (coccyx), tersusun atas 3 sampai dengan 5 ruas tulang belakang yang menyatu. Ruas-ruas tulang belakang berfungsi untuk menegakkan badan dan menjaga keseimbangan.menyokong kepala dan tangan, dan tempat melekatnya otot, rusuk dan beberapa organ.
Apendikular Skeleton
Apendikular skeleton tersusun atas tulang tulang yang merupakan tambahan dari skeleton aksial. Apendikular skeleton ini terdiri dari :
• Anggota gerak atas.
• anggota gerak bawah.
• gelang bahu.
• gelang panggung.
• bagian akhir dari ruas-ruas tulang belakang seperti sakrum dan tulang coccyx.
1.      Tulang anggota gerak atas (extremitas superior).
Tulang penyusun anggota gerak atas tersusun atas :
è Humerus / tulang lengan atas.Termasuk kelompok tulang panjang /pipa, ujung atasnya besar, halus, dan dikelilingi oleh tulang belikat pada bagian bawah memiliki dua lekukan merupakan tempat melekatnya tulang radius dan ulna.
è  Radius dan ulna / pengumpil dan hasta.Tulang ulna berukuran lebih besar dibandingkan radius, dan melekat dengan kuat di humerus. Tulang radius memiliki kontribusi yang besar untuk gerakan lengan bawah dibandingkan ulna.
è Karpal / pergelangan tangan. Tersusun atas 8 buah tulang yang saling dihubungkan oleh ligament.
è Metakarpal / telapak tangan. Tersusun atas lima buah tangan. Pada bagian atas berhubungan dengan tulang pergelangan tangan, sedangkan bagian bawah berhubungan dengan tulang-tulang jari (palanges).
è Palanges (tulang jari-jari).tersusun atas 14 buah tulang. Setiap jari tersusun atas tiga buah tulang, kecuali ibu jari yang hanya tersusun atas 2 buah tulang.
2.       Tulang anggota gerak bawah (ekstremitas inferior).
Tulang anggota gerak bawah disusun oleh :
è Femur / tulang paha.Termasuk kelompok tulang panjang, terletak mulai dari gelang panggul sampai ke lutut.
è Tibia dan fibula / tulang kering dan tulang betis. Bagian pangkal berhubungan dengan lutut bagian ujung berhubungan dengan pergelangan kaki. Ukuran tulang kering lebih besar dibandingkan tulang betis karena berfungsi untuk menahan beban atau berat tubuh. Tulang betis merupakan tempat melekatnya beberapa otot.
è Patela / tempurung lutut, terletak antara femur dengan tibia, bentuk segitiga. Patela berfungsi melindungi sendi lutut, dan memberikan kekuatan pada tendon yang membentuk lutut.
è Tarsal / Tulang pergelangan kaki. Termasuk tulang pendek, dan tersusun atas 8 tulang dengan salah satunya adalah tulang tumit.
è Metatarsal / Tulang telapak kaki. Tersusun atas 5 buah tulang yang tersesun mendatar.
è Palanges / tulang jari-jari tangan. Setiap jari tersusun atas 3 tulang kecuali tulang ibu jari atas 14 tulang.
3.      Tulang gelang bahu (klavikula dan scapula / belikat dan selangka).
Tulang selangka berbentuk seperti huruf “S”, berhubungan dengan tulang lengan atas (humerus) untuk membentuk persendian yang menghasilkan gerakan lebih bebas, ujung yang satu berhubungan dengan tulang dada sedangkan ujung lainnya berhubungan dengan tulang belikat. Tulang belikat (skapula) berukuran besar, bentuk segitiga dan pipih, terletak pada bagian belakang dari tulang rusuk.Fungsi utama dari gelang bahu adalah tempat melekatnya sejumlah otot yang memungkinkan terjadinya gerakan pada sendi.
4.      Gelang panggul
            Tulang gelang panggul terdiri atas dua buah tulang pinggul. Pada anak anak tulang pinggul ini terpisah terdiri atas tiga buah tulang yaitu illium (bagian atas), tulang ischiun (bagian bawah) dan tulang pubis (bagian tengah). Dibagian belakang dari gelang panggul terdapat tulang sakrum yang merupakan bagian dari ruas-ruas tulang belakang. Pada bagian depan terdapat simfisis pubis merupakan jaringan ikat yang menghubungkan kedua tulang pubis. Fungsi gelang panggung terutama untuk mendukung berat badan bersama-sama dengan ruas tulang belakang.melindungi dan mendukung organ-organ bawah, seperti kandung kemih, organ reproduksi, dan sebagai tempat tumbuh kembangnya janin. Secara umum fungsi sistem rangka adalah membentuk kerangka yang kaku dengan jaringan-jaringan dan organ-organ yang melekat padanya. Sistem rangka melindungi organ-organ vital seperti otak yang dilindungi oleh tulang tengkorak, paru-paru dan jantung dilindungi oleh tulang dada dan tulang rusuk. Gerakan tubuh terbentuk dari kerjasama antara sistem rangka dengan otot, oleh sebab itu keduanya sering dikelompokkan menjadi satu nama yaitu sistem musculo-skeletal. Rangka merupakan tempat melekatnya otot melalui perantaraan tendon.  Antara tulang yang satu dengan tulang yang lain dikaitkan dengan perantaraan ligamen.
2.3.2.  Articaltion      
Artikulasi atau sendi adalah tempat pertemuan dua atau lebih tulang. Tulang-tulang ini dipadukan dengan berbagai cara, misalnya dengan kapsul sendi, pita fibrosa, ligament, tendon, fasia, atau otot. Sendi diklasifikasikan sesuai dengan strukturnya.
a. Sendi fibrosa (sinartrodial)
Merupakan sendi yang tidak dapat bergerak. Tulang-tulang dihubungkan oleh serat-serat kolagen yang kuat. Sendi ini biasanya terikat misalnya sutura tulang tengkorak.
b. Sendi kartilaginosa (amfiartrodial)
Permukaan tulang ditutupi oleh lapisan kartilago dan dihubungkan oleh jaringan fibrosa kuat yang tertanam kedalam kartilago misalnya antara korpus vertebra dan simfisis pubis. Sendi ini biasanya memungkinkan gerakan sedikit bebas.
c. Sendi synovial (diartrodial)
Sendi ini adalah jenis sendi yang paling umum. Sendi ini biasanya memungkinkan gerakan yang bebas (mis., lutut, bahu, siku, pergelangan tangan, dll.) tetapi beberapa sendi sinovial secara relatif tidak bergerak (mis., sendi sakroiliaka). Sendi ini dibungkus dalam kapsul fibrosa dibatasi dengan membran sinovial tipis. Membran ini mensekresi cairan sinovial ke dalam ruang sendi untuk melumasi sendi. Cairan sinovial normalnya bening, tidak membeku, dan tidak berwarna atau berwarna kekuningan. Jumlah yang ditemukan pada tiap-tiap sendi normal relatif kecil (1 sampai 3 ml). hitung sel darah putih pada cairan ini normalnya kurang dari 200 sel/ml dan terutama adalah sel-sel mononuclear. Cairan synovial juga bertindak sebagai sumber nutrisi bagi rawan sendi.
Permukaan tulang dilapisi dengan kartilago artikular halus dan keras dimana permukaan ini berhubungan dengan tulang lain. Pada beberapa sendi terdapat suatu sabit kartilago fibrosa yang sebagian memisahkan tulang-tulang sendi (mis., lutut, rahang)
Jenis sendi synovial :
è Sendi Peluru, misal pada persendian panggul dan bahu. Memungkinkan gerakan bebas penuh.
è Sendi Engsel, misal siku dan lutut. Memungkinkan gerakan melipat hanya pada satu arah.
è Sendi Pelana, memungkinakan gerakan dua bidang yang saling tegal lurus. Sendi pada dasar ibu jari adalah sendi pelana dua sumbu.
è Sendi Pivot, misal adalah sendi anatar radius dan ulna. Memungkinkan rotasi untuk melakukan aktivitas seperti memutar pegangan pintu.
è Sendi Peluncur, misal sendi-sendi tulang karpalia di pergelangan tangan. Memungkinkan gerakan terbatas kesemua arah.
2.3.3. Body Movement
a.       Gerakan Lurus (linear motion)-gliding
b.      Gerakan Sudut (angular motion)
è Fleksi-ekstensi-hiperektensi
Fleksi adalah gerakan yang memperkecil sudut antar dua tulang atau dua bagian tubuh, seperti saat menekuk siku (menggerakkan lengan kea rah depan), menekuk lutut (menggerakkan tungkai kearah belakang), atau juga menekuk torso kea rah samping.
Ekstensi bagian tubuh kembali ke posisi anatomis, seperti gerak meluruskan persendian pada siku dan lutut setelah fleksi.
Hiperekstensi mengacu pada gerakan yang memperbesar sudut pada bagian-bagian tubuh melebihi 180%, seperti gerakan menekuk torso atau kepala kea rah belakang.
è Abduksi-adduksi
Abduksi  adalah gerakan bagian tubuh menjauhi garis tengah tubuh, seperti saat lengan berabduksi, atau menjauhi aksis longitudinal tungkai. Seperti gerakan abduksi jari tangan dan jari kaki.
Aduksi kebalikan dari abduksi, adalah gerakan bagian tubuh saat kembali ke aksis utama tubuh atau aksis longitudinal tungkai.
è Sirkumduksi
Sirkumduksi adalah kombinasi dari semua gerakan angular dan berputar untuk membuat ruang berbentuk kerucut, seperti saat mengayunkan lengan membentuk putaran. Gerakan seperti ini dapat berlangsung pada persendiaan panggul, bahu, trunkus, pergelangan tangan, dan persendian lutut.
c.       Gerakan putar (rotation)
è Rotasi kanan-kiri
è Rotasi medial-lateral
è Pronasi-Supinasi
Pronasi adalah rotasi medial lengan bawah dalam posisi anatomis, yang mengakibatkan telapak tangan menghadap kebelakang.
Supinasi adalah rotasi lateral lengan bawah, yang mengakibatkan telapak tangan menghadap ke depan.
d.      Gerakan khusus
è Inversi-eversi
Inversi adalah gerakan sendi pergelangan kaki yang memungkinkan telapak kai menghadap ke dalam atau kea rah medial.
Eversi adalah gerakan sendi pergelangan kaki yang memungkinkan telapak kaki menghadap kea rah luar. Gerakan inversi dan eversi pada kaki sangat berguna untuk berjalan diatas daerah yang rusak dan berbatu-batu.
è Dorsofleksi-plantar fleksi
Dorsofleksi adalah gerakan menekuk telapak kaki dipergelangan kearah depan (meninggikan bagian dorsal kaki)
Plantar fleksi adalah gerakan meluruskan telapak kaki pada pergelangan kaki
è Opposisi
Gerakan ibu jari menyentuh telapak tangan.
è Protraksi-retraksi
Protaksi adalah memajukan bagian tubuh, seperti saat menonjolkan rahang bawah ke depan, atau memfleksi girdel pektoral ke arah depan.
Retraksi adalah gerakan menarik bagian tubuh kea rah belakang, s   seperti saat meretraksi girdle pektoral untuk membusungkan dada
è Elevasi-depresi
Elevasi adalah pergerakan struktur kea rah superior, seperti saat mengatupkan mulut (mengelevasi mandibula) atau mengangkat bahu (mengelevasi skapula).
Depresi adalah menggerakkan suatu struktur ke arah inferior, seperti saat membuka mulut.
è Fleksi lateral
2.4.         Struktur Otot Tubuh
Otot adalah sebuah jaringan dalam tubuh dengan kontraksi sebagai tugas utama. Otot diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu otot lurik, otot polos dan otot jantung.Otot menyebabkan pergerakan suatu organisme maupun pergerakan dari organ dalam organisme tersebut. Sel otot merupakan sel dengan banyak nuclei yang terjadi karena proses fusi dari sel mioblas. Jenis-jenis otot yang ada dalam tubuh :
a.Otot lurik
Memiliki desain yang efektif untuk pergerakan yang spontan dan membutuhkan tenaga besar.Pergerakannya diatur sinyal dari sel syaraf motorik.Otot ini menempel pada kerangka dan digunakan untuk pergerakan.

b.Otot polos

Otot yang ditemukan dalam intestium dan pembuluh darah bekerja dengan pengaturan dari sistem saraf tak sadar, yaitu saraf otonom. Otot polos dibangun oleh sel-sel otot yang terbentuk gelondong dengan kedua ujung meruncing,serta mempunyai satu inti, seperti yang terlihat pada gambar.

c.Otot jantung

Otot yang ditemukan dalam jantung ini bekerja secara terus-menerus tanpa henti. Pergerakannya tidak dipengaruhi sinyal saraf pusat.
2.5.         Struktur Otot Ektremitas
Adapun tulang pembentuk regio ekstremitas superior yaitu: Scapula, Clavicula, Humerus, Radius, Ulna, carpal, Metacarpal, Phalangs.
1.        Scapula (tulang belikat)
Dalam anatomi manusia, tulang belikat atau scapula adalah tulang yang menghubungkan humerus (tulang lengan atas) dan clavicula (tulang selangka).
2.       Clavicula (tulang selangka)
Dalam anatomi manusia tulang selangka atau clavicula adalah tulang yang membentuk bahu dan menghubungkan lengan atas pada batang tubuh.
Menghubungkan lengan atas pada batang tubuh.Ujung medial klavicula bersendi pada manubrium sterni melalui artikulatio sternoclavicularis.
Clavicula berguna :
è sebagai pengganjal untuk menghubungkan ekstrimititas superior dari toraks supaya lengan dapat bergerak sebebas-bebasnya.
è untuk meneruskan goncangan dari ekstremitas superior ke kerangka aksial.
3.        Humerus (Tulang Lengan Atas)
Batang humerus terletak di antara batas atas pectoralis penyisipan besar proksimal dan distal ridge supracondylar.Ini merupakan tengah tiga perlima dari seluruh humerus.Bagian anterior tuberositas semakin besar meluas ke anterior punggungan yang berakhir pada fosa coronoid distal.Aspek posterior yang lebih besar terus tuberositas sebagai lateral distal ridge yang berakhir di supracondylar lateral punggungan. Melds tuberositas yang lebih kecil menjadi medial terletak punggung bukit yang membentuk punggungan supracondylar medial distal.
Deltoideus Tuberculum yang membentuk lateral keunggulan hanya proksimal ke midshaft. Batang humerus memiliki posterior, sebuah anterolateral, dan anteromedial permukaan.Kanal yang meduler berakhir humerus proksimal ke olecranon fosa. Anatomi humerus memiliki implikasi yang penting untuk internal dan eksternal fiksasi Lengan dibagi menjadi kompartemen anterior dan posterior oleh fasia septae. Compartmentcontains posterior otot trisep, saraf radialis beteen panjang dan lateral kepala trisep. Anterior atau flexorcompartment berisi fleksor dari siku, biceps brachii dan brakialis, dan coracobrachialis. The brakialis telah mendapat pasokan dua saraf-satu dari muskulokutaneus dan lain dari saraf radialis.
4.        Radius (Tulang Pengumpil)
adalah tulang yang lebih pendek dan terletak lebih ke lateral antara kedua tulang lengan bawah.
5.        Ulna (Tulang hasta)
antara kedua tulang lengan bawah ulna adalah yang lebih panjang dan lebih medial.
6.        Carpal, Metacarpal dan Phalangs
BAB III
PENUTUP
3.1. Simpulan
Rangka aksial terdiri dari tulang-tulang dan bagian kartilago yang melindungi dan menyangga organ-organ kepala, leher dan dada. Bagian rangka aksial meliputi tengkorak, tulang hioid, osikel auditori, kolumna vertebra, sternum dan tulang iga.
Rangka apendikular terdiri dari girdel pektoral (bahu), girdel pelvis, dan tulang lengan serta tungkai. Artikulasi atau sendi adalah hubungan antara dua tulang yang berdekatan. Sendi di klasifikasikan sesuai dengan struktur (berdasarkan ada tidaknya rongga persendian diantara tulang-tulang yang berartikulasi dan jenis jaringan ikat yang berhubungan dengan persendian tersebut), danmenurut fungsi persendian (berdasarkan jumlah gerakan yang mungkin dilakukan pada persendian).
3.2. Saran
Demi kebaikan dan kesempurnaan makalah (Anatomi Muskuloskenetal) yang dibuat penyusun, diharapkan adanya saran-saran yang membangun. Dikarenakan penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah (Anatomi Muskuloskenetal) ini.
Yang dibuat penyusun, diharapkan adanya saran-saran yang membangun. Dikarenakan penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah (Anatomi Muskuloskenetal) ini.

Pengkajian Sistem Muskuloskeletal

A. DATA SUBJEKTIF
1. Keluhan Utama
1.1. Persendian
1.1.1. Nyeri
Nyeri adalah masalah yang paling umum dari gangguan muskuloskeletal. Penting untuk mengetahui lokasi dari nyeri, kualitas maupun tingkat keparahannya dan waktu terjadinya nyeri. Disamping itu perlu diperoleh informasi mengenai kondisi yang memperberat maupun yang meringankan keluhan. Termasuk juga apakah ada keluhan lain yang menyertai nyeri seperti demam dan sakit tenggorokan.
2. Kekakuan
Pada penyakit rheumatoid arthritis, kekakuan pada persendian biasanya terjadi pada pagi hari dan setelah periode istirahat.
1.1.3. Pembengkakan, panas dan kemerahan pada sendi
Keluhan ini dikaji untuk mengetahui apakah terdapat inflamasi akut
1.1.4. Keterbatasan gerak
Penurunan rentang gerak biasanya muncul pada masalah persendian
1.2.Otot
1. Nyeri
Nyeri pada otot biasanya dirasakan seperti “KRAM” atau kejang pada otot
.2.2. Kelemahan Otot
Perlu diketahui lama terjadinya keluhan, lokasi apakah terdapat distropi pada otot tersebut. Kelemahan Otot dapat diindikasikan sebagai adanya gangguan muskuloskeletal atau neurology.
1.3. Tulang
1.3.1. Nyeri
Pada fraktur karakteristik nyeri tajam dan keluhan semakin parah jika ada pergerakan. Meskipun demikian keluhan nyeri pada tulang biasanya tumpul dan dalam yang juga mengakibatkan gangguan pergerakan.

1.3.2. Deformitas
Keluhan ini dapat terjadi karena trauma dan juga mempengaruhi rentang gerak. Ini perlu dikaji dengan lebih teliti dan data yang terkait dengan waktu terjadinya trauma serta penanganan yang dilakukan perlu diidentifikasi secara cermat.

1.4. Pengkajian Fungsional
Pengkajian ini terkait dengan kemampuan pasien dalam melakukana aktivitas sehari-hari ( ADL). Yang meliputi personal hygiene, eliminasi berpakaian dan berhias, makan kemampuan mobilisasi serta kemampuan berkomunikasi.

2. Riwayat Kesehatan dan Pengobatan
2.1.Tanyakan pada klien mengenai masalah kesehatan yang pernah dialaminya, khususnya yang terkait dengan ganguan muskuloskeletal. Informasi ini akan memberi data dasar pada saat pemeriksaan fisik. Misalnya cedera yang pernah dialami klien mungkin akan mempengaruhi nilai rentang gerak pada persendian dan ekstremitas pada saat dilakukan pemeriksaan fisik. Demikian juga nyeri persendian yang terjadi setelah menderita penyakit kerongkongan yang mungkin mengindikasikan adanya demam rhematik
2.2. Data tentang imunisasi juga diperlukan ( tetanus dan polio ), karena kekakuan pada persendian maupun kejang pada otot dapat juga disebabkan oleh tetanus dan polio. Kondisi seperti ini hampir mirip dengan arthritis.
2.3. Pada wanita paruh baya perlu juga ditanyakan mengenai riwayat menopause serta apakah pasien tersebut mendapat terapi estrogen pengganti atau tidak. Wanita yang mengalami menopause lebih awal biasanya berisiko menderita osteoporosis karena penurunan kadar estrogen dalam tubuh yang mengakibatkan penurunan kepadatan tulang.
2.4. Selain penyakit muskuloskeletal, adanya penyakit lain seperti DM, anemia dan sistemik lupus eritematosus, juga perlu dikaji. Karena hal ini juga dapat menjadi resiko terjadinya masalah muskuloskeletal seperti osteoporosis dan osteomyelitis.
3. Riwayat Keluarga
Dapatkan informasi mengenai penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarga seperti riwayat rheumatoid arthritis, gout atau osteoporosis. Kondisi ini cenderung terjadi pada hubungan keluarga.
4. Riwayat Sosial
Hal- hal yang dikaji disini meliputi pekerjaan yang berisiko terhadap terjadinya gangguan muskuloskeletal. Termasuk juga aktivitas yang rutin dilakukan, pola diet/ kebiasaan mengkonsumsi makanan maupun minuman keras, berat badan, serta penanganan yang biasanya dilakukan jika terdapat keluhan.
Overfield (1995) dalam Weber menyatakan bahwa pria memiliki tulang yang lebih padat setelah pubertas dan orang kulit hitam mempunyai tulang yang lebih padat dari orang kulit putih. Ia juga menyebutkan bahwa orang Cina, Jepang, dan Eskimo memiliki kepadatan tulang yang lebih rendah dari pada orang kulit putih, tetapi pada wanita Polynesia kepadatan tulangnya 20 % lebih tinggi dari wanita kulit putih.

B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Fisik
1. 1. Persiapan klien
Persiapkan ruangan senyaman mungkin. Berikan informasi yang jelas kepada klien tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan, bila perlu didemonstrasikan terlebih dulu mengenai gerakan yang akan dilakukan. Beberapa posisi mungkin mengakibatkan ketidaknyamanan pada klien, oleh karena itu hindarkan aktivitas yang tidak perlu dan berikan periode istirahat pada waktu pemeriksaan jika diperlukan. Pencahayaan yang baik pada di ruangan pemeriksaan juga sangat penting.

1.2. Inspeksi
Observasi kulit dan jaringan terhadap adanya perubahan warna, pembengkakan, massa, maupun deformitas. Catat ukuran dan bentuk dari persendian. Pembengkakan yang terjadi dapat dikarenakan adanya cairan yang berlebih pada persendian, penebalan lapisan sinovial, inflamasi dari jaringan lunak maupun pembesaran tulang. Deformitas yang terjadi termasuk dislokasi, subluksasi, kontraktur ataupun ankilosis. Perhatikan juga postur tubuh dan gaya berjalan klien, misalnya gaya berjalan spastik hemiparese ditemukan pada klien stroke, tremor pada klien parkinson, dan gaya berjalan pincang. Jika klien berjalan pincang, maka harus diobservasi apakah hal tersebut terjadi oleh karena kelainan organik pada tubuh sejak bayi atau oleh karena cedera muskuloskeletal. Untuk dapat membedakannya dengan melihat bentuk kesimetrisan pinggul, bila tidak simetris artinya gaya berjalan bukan karena cedera muskuloskeletal.
Gambar 1. Gambaran Postur Tubuh Abnormal

A. Kiposis B. Skoliosis C. Lordosis
1.3. Palpasi
Lakukan palpasi pada setiap sendi termasuk keadaan suhu kulit, otot, artikulasi dan area pada kapsul sendi. Normalnya sendi tidak teraba lembek pada saat dipalpasi, demikian juga pada membran sinovial. Dan dalam jumlah yang sedikit, cairan yang terdapat pada sendi yang normal juga tidak dapat diraba. Apabila klien mengalami fraktur, kemungkinan krepitasi dapat ditemukan, tetapi pemeriksaan ini tidak dianjurkan karena dapat memperberat rasa nyeri yang dirasakan klien.

1.4. Rentang Gerak ( ROM )
o Buatlah tiap sendi mencapai rentang gerak normal penuh ( seperti pada tabel 2 ). Pada kondisi normal sendi harus bebas dari kekakuan, ketidakstabilan, pembengkakan, atau inflamasi.
o Bandingkan sendi yang sama pada kedua sisi tubuh terhadap keselarasan.
o Uji kedua rentang gerak aktif dan pasif untuk masing-masing kelompok sendi otot mayor yang berhubungan.
o Jangan paksa sendi bergerak ke posisi yang menyakitkan.
o Beri klien cukup ruang untuk menggerakkan masing-masing kelompok otot sesuai rentang geraknya.
o Selama pengkajian terhadap rentang gerak, kekuatan dan tegangan otot , inspeksi juga memgenai adanya pembengkakan, deformitas, dan kondisi dari jaringan sekitar, palpasi atau observasi terjadinya kekakuan, ketidakstabilan, gerakan sendi yang tidak biasanya, sakit, nyeri, krepitasi dan nodul-nodul.
o Bila sendi tampak bengkak dan inflamasi, palpasilah kehangatannya.
o Selama pengukuran rentang gerak pasif, minta klien agar rilek dan memungkinkan pemeriksa menggerakkan sendi secara pasif sampai akhir rentang gerak terasa. Pemeriksa membandingkan rentang gerak aktif dan pasif yang harus setara untuk masing-masing sendi dan diantara sendi-sendi kontralateral. Dalam keadaan normal dapat bergerak bebas tanpa sakit atau krepitasi.
o Bila diduga terjadi penurunan gerakan sendi, gunakan sebuah goniometer untuk pengukuran yang tepat mengenai derajat gerakan. (Caranya tempatkan goniometer pada tengah siku dengan lengan melebar disepanjang lengan bawah dan lengan atas klien. Setelah klien memfleksikan lengan, goniometer akan mengukur derajat fleksi sendi).
o Ukur sudut sendi sebelum rentang gerak sendi secara penuh atau pada posisi netral dan ukur kembali setelah sendi bergerak penuh. Bandingkan hasilnya dengan derajat normal gerakan sendi.
o Tonus dan kekuatan otot dapat diperiksa selama pengukuran rentang gerak sendi.
o Tonus dideteksi sebagai tahanan otot saat ekstremitas rilek secara pasif digerakkan melalui rentang geraknya. Tonus otot normal menyebabkan tahanan ringan dan data terhadap gerakan pasif selamanya rentang geraknya.
o Periksa tiap kelompok otot untuk mengkaji kekuatan otot dan membandingkan pada kedua sisi tubuh. Caranya minta klien membentuk suatu posisi stabil. Minta klien untuk memfleksikan otot yang akan diperiksa dan kemudian menahan tenaga dorong yang dilakukan pemeriksa terhadap fleksinya . Periksa seluruh kelompok otot mayor. Bandingkan kekuatan secara bilateral, dalam keadaan normal kekuatan otot secara bilateral simetris terhadap tahanan tenaga dorong, lengan dominan mungkin sedikit lebih kuat dari lengan yang tidak dominan.
o Bersamaan dengan tiap manuver : minta klien membentuk suatu posisi kuatnya. Berikan peningkatan tenaga dorong secara bertahap terhadap kelompok otot.
o Klien menahan dorongan dengan usaha untuk menggerakkan sendinya berlawanan dengan dorongan tersebut.
o Klien menjaga tahanan tersebut agar tetap ada sampai diminta untuk menghentikannya.
o Sendi seharusnya bergerak saat pemeriksa memberi variasi kekuatan tenaga dorong terhadap kelompok otot tersebut.
o Bila kelemahan otot terjadi, periksa ukuran otot dengan menempatkan pita pengukur di sekitar lingkar otot tubuh tersebut dan membandingkannya dengan sisi yang berlawanan.

Gambar 2. Teknik penggunaan Goniometer

Tabel 1. Terminologi untuk posisi rentang gerak sendi normal
Istilah Rentang Gerak Contoh Sendi
Fleksi Gerakan memperkecil sudut antara dua tulang yang menyatu ; penekukan ekstremitas Siku, jari dan lutut
Ekstensi Gerakan mempesar sudut antara dua tulang yang menyatu Siku, jari dan lutut
Hiperekstensi Gerakan bagian-bagian tubuh melebihi batas normal posisi ekstensinya Kepala
Pronasi Permukaan depan atau ventral bagian tubuh menghadap ke bawah Tangan dan lengan bawah
Supinasi Permukaan depan atau ventral bagian tubuh menghadap ke atas Tangan dan lengan bawah
Abduksi Gerakan ekstremitas menjauh dari garis tengah tubuh Tungkai, lengan dan jari
Adduksi Gerakan ekstremitas ke arah garis tengah tubuh Tungkai, lengan dan jari
Rotasi internal Rotasi sendi ke arah dalam Lutut dan panggul
Rotasi eksternal Rotasi sendi ke arah luar Lutut dan panggul
Eversi Pembalikan bagian tubuh menjauh dari garis tengah Telapak kaki
Inversi Pembalikan bagian tubuh ke arah garis tengah Telapak kaki
Dorsifleksi Fleksi dari telapak kaki dan jari-jarinya ke atas Telapak kaki
Plantar fleksi Penekukan telapak kaki dan jari-jarinya ke bawah Telapak kaki
Sumber : Potter, Patricia A, Pocket guide to health assessment, hal.345.

Tabel 2. Rentang Gerak Sendi Normal
Anggota Tubuh Gerakan Pengukuran
Rahang Membuka dan menutup rahang

Gerakkan rahang dari sisi ke sisi

Gerakkan rahang ke depan Mampu memasukkan
tiga jari
Sisi dasar gigi tumpang tindih dengan puncak sisi gigi.
Puncak gigi jatuh di belakang gigi bawah

Leher Menyentuh dagu ke sternum
Ekstensi leher dengan dagu mengarah ke atas
Menekuk leher secara lateral
Rotasi leher dengan telinga mengarah ke dada Fleksi 70o – 90o
Hiperekstensi 55o
Penekukan lateral 35o
Rotasi 70o ke kiri dan ke kanan.
Tulang Belakang Menekuk ke depan pada pinggang
Menekuk ke belakang
Menekuk ke tiap sisi Fleksi 75o
Ekstensi 30o
Penekukan lateral 35o

Bahu Abduksi lengan lurus ke atas
Adduksi lengan ke arah garis tengah tubuh
Abduksi lengan secara horizontal lurus dengan lantai ; tarik lengan ke belakang ke arah tulang belakang dan ke depan menyilang terhadap dada
Fleksi ke depan atau elevasi dengan lengan lurus
Ekstensi ke belakang dengan lengan lurus Abduksi 180o
Adduksi 45o
Ekstensi horizontal 45o
Fleksi horizontal 130o

Fleksi 180o
Ekstensi 60o
Siku Ekstensi lengan bawah ke batas terjauh normal
Fleksi lengan bawah ke arah bisep
Hiperekstensi lengan di luar batas normalnya
Supinasi lengan bawah
Pronasi lengan bawah Ekstensi 150o
Fleksi 150o
Hiperekstensi 0o – 10o
Supinasi 90o
Pronasi 90o
Pergelangan
Tangan Fleksi pergelangan ke arah lengan bawah
Fleksi pergelangan ke arah belakang
Simpangkan secara lateral pergelangan ke arah radial

Simpangkan lateral pergelangan ke arah ulnar Fleksi 80o – 90o
Ekstensi 70o
Penyimpangan ke arah radial 20o
Penyimpangan ke arah ulnar 30o – 50o
Jari-jari Fleksikan jari-jari membentuk sebuah kepalan kemudian

Ekstensikan sampai datar
Buka jari-jari sampai terpisah
Silangkan jari-jari bersamaan

Oposisi – setiap jari mampu menyentu ibu jari Fleksi 80o- 100o
( bervariasi tergantung pada sendinya )
Ekstensi 0o – 45o
Abduksi antara jari-jari 20o
Abduksi ( jari-jari bersentuhan )
Meliputi abduksi, rotasi dan fleksi.
Panggul Naikkan tungkai dengan lutut lurus
Naikkan tungkai dengan lutut fleksi
Berbaring tengkurap, ekstensikan tungkai lurus ke belakang
Abduksi sebagian tungkai yang fleksi ke arah luar
Adduksi sebagian tungkai yang fleksi ke arah dalam
Fleksi lutut dan ayunkan kaki menjauhi garis tengah
Fleksi lutut dan ayun kaki ke arah garis tengah Fleksi 90o
Fleksi 110o – 120o
Ekstensi 30o

Abduksi 45o – 50o
Adduksi 20o – 30o
Rotasi internal 35o- 40o
Rotasi eksternal 45o
Lutut Fleksi lutut dengan betis menyentuh paha
Ekstensikan lutut di luar batas normal ekstensinya
Putar lutut dan tungkai bawah ke arah garis tengah Fleksi 130o
Hiperekstensi 15o
Rotasi internal 10o
Tumit Dorsifleksikan kaki dengan ibu jari mengarah ke kepala
Plantar kaki fleksi dengan ibu jari mengarah ke bawah
Putar balik kaki menjauh dari garis tengah
Putar balik kaki mengarah ke garis tengah Dorsifleksi 20o
Plantar fleksi 45o
Eversi 20o
Inversi 30o
Ibu Jari Lekukan ibu jari kaki di bawah telapak kaki
Angkat ibu jari ke atas
Ibu jari kaki diregangkan Fleksi 35o-60o
Ekstensi 0o- 90o
Bervariasi
Sumber : Potter, Patricia A, Pocket guide to health assessment, hal.346-348.

1.5. Tes kekuatan otot
Pemeriksaan kekuatan otot dapat dilakukan dengan menggerakkan tiap ekstremitas ( pergerakan penuh ) dalam menahan tahanan. Lakukan tindakan ini dengan menggunakan beberapa tahanan yang bervariasi. Apabila klien tidak mampu melakukan gerakan untuk melawan tahanan yang diberikan pemeriksa, maka klien untuk meggerakan ekstremitas dalam melawan gravitasi. Jika hal ini tidak dapat dilakukan, usahakan/ bantu klien untuk melakukan rentang gerak secara pasif. Apabila cara ini juga tidak berhasil, maka perhatikan dan rasakan (palpasi) kontraksi otot pada saat klien berusaha menggerakkannya.

Gambar 3. Teknik Pemeriksaan Kekuatan Otot

Dokumentasikan skala ini dengan menggunakan skala berikut :
Tabel 3. Skala kekuatan otot
Skala Gambaran Persentasi
normal Klasifikasi
5 Gerakan aktif, dapat melawan tahanan penuh 100 Normal
4 Gerakan aktif, hanya dapat menahan sebagian tahanan 75 Kelemahan ringan
3 Gerakan aktif, dapat melawan gravitasi 50 Cukup/ kelemahan sedang
2 Rentang gerak ( ROM ) pasif 25 Buruk
1 Hanya terdapat kontraksi otot 10 Sangat buruk
( Kelemahan berat )
0 Tidak terdapat kontraksi otot 0 Paralisis

Umumnya penulisan kekuatan otot di institusi kesehatan menggunakan tanda atau symbol : 4444 3333
5555 2222
Arti tanda tersebut adalah :
o Nilai kekuatan otot yang berada di sebelah kanan atas garis ( 4444) menunjukkan kekuatan otot ekstremitas kanan bagian atas, sedangkan yang di sebelah kiri atas (3333) menunjukan kekuatan otot ekstremitas kiri bagian atas.
o Nilai kekuatan otot yang berada di sebelah kanan bawah garis (5555) menunjukkan kekuatan otot ekstremitas kanan bagian bawah, sedangkan yang di sebelah kiri bawah (2222) menunjukan kekuatan otot ekstremitas kiri bagian bawah.
o Nilai horizontal yang terjauh dengan garis menunjukkan kekuatan otot dari persendian yang terdistal dari organ yang diuji.
Pada beberapa klien biasanya mengalami pergerakan yang lebih lambat dan penurunan kekuatan otot yang diakibatkan oleh degenerasi serabut otot dan sendi serta penurunan elastisitas dari tendon.
Hal yang perlu diperhatikan :
– Jangan paksa organ tubuh/ ekstremitas untuk melakukan gerakan normal. Hentikan gerakan pasif apabila klien merasa nyeri atau tidak nyaman. Lakukan pemeriksaan dengan hati-hati khususnya pada pasien lanjut usia.
– Pada saat membandingkan kekuatan otot dengan ekstremitas lainnya, biasanya otot ekstremitas yang lebih dominan cenderung lebih kuat.

1.6. Pemeriksaan Phalen ( Phalen’s test )
Minta klien untuk melakukan fleksi 90o pada kedua pergelangan tangan, dan kedua punggung tangan saling merapat ( bersentuhan ). Pertahankan posisi ini selama 60 detik. Normal tidak ada keluhan, tetapi pada “ Carpal Tunnel Syndrome “, tangan akan kebas dan terasa seperti terbakar. Carpal Tunnel syndrome adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan / penekanan saraf pada pergelangan tangan.

1.7. Tanda Tinel ( Tinel’s Sign )
Lakukan perkusi langsung pada nervus yang berada di bagian tengah dari pergelangan tangan. “ Tinel’s Sign “ positif apabila sewaktu perkusi dilakukan klien merasa seperti terbakar ataupun merasa geli pada area pergelangan tangan, dan sekitarnya. Ini juga dapat ditemukan pada “ Carpal Tunnel Syndrome “.

1.8. Tanda bulge ( Bulge Sign )
Lakukan gerakan (seperti masase) dengan agak kuat pada bagian medial paha bagian dalam ke arah lutut lebih kurang 2-3 kali, kemudian tahan. Tangan yang lain menahan pada sisi yang berlawanan. Perhatikan bagian tengah dari lutut pada daerah yang agak cekung terhadap adanya tonjolan yang jelas dari gelombang cairan. Normalnya tonjolan tersebut tidak ada ( “Bulge Sign” negative ).

1.9. Pemeriksaan ballotemen
Pemeriksaan ini dapat digunakan apabila terdapat sejumlah cairan pada area patela. Gunakan tangan kiri untuk menekan rongga suprapatelar. Dengan jari tangan kanan dorong patella dengan tajam ke arah femur. Apabila tidak terdapat cairan maka patella yang terdorong akan kembali ke posisi semula.

1.10. Pemeriksaan McMurray ( McMurray’s test )
Pemeriksaan ini dilakukan apabila klien melaporkan adanya riwayat trauma yang diikuti dengan rasa nyeri pada lutut dan kesulitan dalam menggerakkannya. Klien dibaringkan dengan posisi supine, dan pemeriksa berdiri di sisi klien pada bagian yang akan diperiksa. Sokong tumit kaki dan fleksikan lutut dan pinggul. Tangan yang lain memegang lutut. Kemudian rotasikan kaki dari dalam ke luar dan sebaliknya, lalu sambil menahan tumit kaki dan memegang lutut dorong tumit tersebut kea rah kepala. Setelah itu secara perlahan lutut diluruskan. “McMurray’s test” positif apabila terdengar atau terasa bunyi “klik“ pada lutut. Normalnya kaki dapat diluruskan kembali dengan lembut tanpa kekakuan dan tanpa nyeri.

Gambar 4. Teknik Pemeriksaan McMurray’s

1.11. Pemeriksaan LaSegue ( LaSegue’s test )
Berikan posisi supine pada klien, kemudian angkat salah satu tungkai bawah dan tungkai yang lain tetap lurus di atas tempat tidur. Lalu dorsofleksikan telapak/ pergelangan kaki. Dilakukan pada kedua kaki secara bergantian. Hasilnya positif apabila klien mengeluhkan nyeri sewaktu pemeriksaan. Keluhan ini biasanya terjadi pada hernia nucleus pulposus ( HNP )

2 Pemeriksaan Diagnostik dan Laboratorium
2.1. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik pada sistem musculoskeletal dapat digunakan sebagai pendukung untuk menegakkan diagnosa penyakit pasien. Adapun pemeriksaan ini meliputi:

2.1.1. Bone X-Ray
X-Ray merupakan salah satu jenis pemeriksaan yang dapat memberikan gambaran kondisi keadaan tulang sesorang, apakah ada fraktur, infeksi tulang seperti osteomiletis, kelainan bawaan, destruksi sendi pada klien arthritis, osteoporosis tahap lanjut atau tumor baik fase awal atau yang telah metastase.

Gambaran X-Ray pada klien osteoporosis tampak terjadi dimineralisasi yang ditunjukkan dengan adanya radiolusensni tulang, vertebra torakalis berbentuk baji sedangkan vertebra lumbalis menjadi bikonkaf.
Selain itu, dengan X-Ray juga dapat memonitor perkembangan penyembuhan fraktur. Film radiograpis dapat memperlihatkan adanya cairan sendi, pembengkakan dan kalsifikasi jaringan lunak .

Bila ditemukan tanda kalsifikasi pada jaringan lunak dapat menunjukkan adanya peradangan kronis yang merubah bursa atau tendon di area tersebut, karena X-Ray tidak mampu melihat secara langsung keaadaan kartilago dan tendon, begitu juga fraktur kartilago, sprain, cedera ligamentum.
Umumnya untuk mendapatkan gambaran yang akurat diperlukan dua sudut yang berbeda, yaitu anterior-posterior dan lateral.

Sebelum dilakukan pemeriksaan X-Ray ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang perawat, antara lain :
• Menjelaskan tujuan dan gambaran prosedur tindakan.
• Tidak perlu puasa atau pemberian sedasi, kecuali bila diperlukan.
• Bagi anak-anak, umumnya merasa takut dengan peralatan yang besar dan asing serta ia merasa terisolasi dari orang tuanya, pastikan pada bagian radiology kemungkinan orang tua dapat mendampiringi anaknya pada saat prosedur.
• Informasikan pada klien, prosedur ini tidak menyebabkan rasa nyeri, tetapi mungkin merasa kurang nyaman terhadap papan pemeriksaan yang keras dan dingin.
• Sokong dengan hati-hati bagian yang cidera dengan cara memegang ekstremitas dengan lembut pada papan pemeriksaan.
• Lindungi testis, ovarium, perut ibu hamil dengan pelindung khusus terhadap radiasi selama prosedur.

2.1.2. CT-Scan
Computed Tomography digunakan untuk mengidentifikasi lokasi dan luasnya cedera yang sulit teridentifikasi oleh pemeriksaan lain. Sehingga CT Scan mempunyai tujuan untuk mengevaluasi cedera ligament, tendon dan tulang serta dapat mengetahui adanya tumor secara spesifik.

Bagi klien yang diamputasi pemeriksaan ini berfungsi untuk mengidentifikasi lesi neoplastik , osteomielitis dan pembentukan hematoma.
Pemeriksaan ini dapat atau tidak menggunakan zat kontras. Waktu yang digunakan kurang lebih 60 menit.
Yang perlu diperhatikan oleh perawat selama prosedur pelaksanaan adalah :
 Jelaskan tujuan dan gambaran tindakan, seperti klien akan dibaringkan di medan magnet, kemudian dimasukkan dalam sebuah tabung. Informasikan pada klien, prosedur ini tidak menyebabkan rasa nyeri, tetapi mungkin merasa kurang nyaman terhadap papan pemeriksaan yang keras dan dingin.
 Anjurkan klien melepas semua bahan metal seperti : ikat pinggang, arloji, kartu kredit, karena ini akan mempengaruhi hasil scaning dan medan magnet dapat merusak fungsi benda-benda tersebut.
 Informasikan bahwa perubahan posisi dapat menyebabkan perubahan hasil scan. Sehingga anak-anak sering diberikan obat penenang sebelum prosedur dilakukan.

2.1.3. MRI ( Magnetic Resonance Imaging ).
MRI merupakan teknik scaning diagnostic yang non invasive dan menggunakan medan magnet. Pemeriksaan ini dapat memberikan informasi tentang tulang, sendi , kartilago, ligament dan tendon. Klien dengan keluhan nyeri leher dan pinggang dapat diketahui dengan MRI untuk melihat kemungkinan adanya herniasi.
Kelebihan dari MRI adalah klien tidak terpapar oleh ion-ion radiasi. MRI penting dalam pengkajian untuk mengetahui perbaikan dari suatu pembedahan ortopedik.
Hal yang perlu diperhatikan perawat pada pemeriksaan MRI ini adalah :
 Tidak ada pembatasan input baik makan maupun minum sebelum tindakan.
 Jelaskan tujuan dan gambaran tindakan, seperti klien akan dibaringkan di medan magnet, kemudian dimasukkan dalam sebuah tabung.
 Kemungkinan klien merasakan keidaknyamanan seperti pusing, tingling pada gigi yang mengandung tambalan metal. Sebenarnya klien yang menggunakan implant logam tidak dianjurkan untuk MRI.
 Anjurkan klien melepas semua bahan metal seperti : ikat pinggang, arloji, kartu kredit, karena ini akan mempengaruhi hasil scaning dan medan magnet dapat merusak fungsi benda-benda tersebut.
 Bagi klien claustrophobia mungkin merasa takut berada di tabung yang tertutup oleh karena itu perlu penjelasan dan bila memungkinkan mesin tidak ditutup.
 Informasikan bahwa perubahan posisi dapat menyebabkan perubahan hasil scan. Sehingga anak-anak sering diberikan obat penenang sebelum prosedur dilakukan.
 Didalam tabung pemeriksaan, klien akan mendengarkan suara mesin yang mungkin membuat rasa tidak nyaman atau takut. Sehingga salah satu solusinya
klien dapat mengunakan earplug atau di ruang tersebut diperdengarkan alunan
musik.
 Untuk kenyamanan, anjurkan klien mengosongkan bladder sebelum
pemeriksaan.
 Pemeriksaan ini memerlukan waktu 30 – 90 menit.

Kontraindikasi MRI adalah :
• Klien obesitas ( BB > 150 kg ) karena meja pemeriksaan tidak mampu menyokong berat badan klien.
• Klien yang memakaki implant logam seperti : pacemaker, infuse pump, implant telinga dalam, klien ortopedik dengan pemasangan screw dan plat, karena magnet logam tersebut dapat memindahkan ion magnet ke tubuh klien dan dapat menimbulkan cedera.

2.1.4. Angiography
Merupakan teknik pemeriksaan untuk mengetahui kondisi struktur vaskuler. Arteriografi dilakukan dengan cara memasukkan zat kontras radioopak melalui arteri. Setelah diinjeksi area tersebut di foto rongent. Hal ini untuk mengetahui sirkulasi/ perfusi jaringan apakah masih baik atau buruk. Biasanya dilakukan untuk mengetahui perfusi jaringan pada area yang akan diamputasi. Setelah dilakukan tindakan klien dianjurkan untuk istirahat kurang lebih 12 – 24 jam dan dibebat elastis guna mencegah terjadinya perdarahan paska injeksi.

2.1.5. Atroscopy
Dapat digunakan untuk mengetahui adanya robekan pada kapsul sendi atau ligament penyangga lutut, bahu, tumit, pinggul, pergelangan tangan dan temporomandibular. Pemeriksaan ini merupakan tindakan endoskopi yang memungkinkan pandangan langsung ke dalam ruang sendi.

Setelah dilakukan pemeriksaan ini, klien dianjurkan istirahat kurang lebih 12 – 24 jam dan diberikan bebat elastis pada area pemeriksaan. Sebelum dilakukan prosedur ini, terutama bila pemeriksaan pada bagian sendi ekstremitas bawah, pastikan klien mampu menggunakan alat Bantu jalan seperti crucht. Crucht digunakan oleh klien hingga klien mampu menunjukkan kemampuan berjalan tanpa pincang.

Setelah dilakukan pemeriksaan ini maka yang perlu diperhatikan perawat adalah pengkajian TTV, status neurovaskuler pada area kaki : cek pulse, warna, temperature, dan sensasi serta observasi tanda-tanda infeksi, termasuk panas, bengkak, nyeri, kemerahan dan pengeluaran cairan.
Potensial komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh pemeriksaan ini adalah:
• Infeksi (tindakan ini harus dilakukan dengan steril dan di kamar operasi).
• Tromboplebitis yang dapat disebabkan oleh karena immobilisasi yang lama.
• Hemartrosis (perdarahan dalam sendi) yang dapat disebabkan oleh aspirasi karena jarum.
• Cedera sendi oleh karena pembedahan.
• Rupture sinovial.
Hal-hal yang harus diketahui oleh perawat adalah :
• Klien sebaiknya tidak diberikan obat-obat peroral sampai tengah malam pada hari dimana prosedur tindakan dilakukan.
• Pada umumnya tindakkan ini menggunakan anestesi spinal atau general anestesi. Khususnya apabila pembedahan pada lutut diperlukan.
• Sebelum pemeriksaan pada lutut, rambut halus sekitar 6 inci di bawah dan di atas lutut harus dibersihkan.
• Klien ditempatkan pada meja operasi dengan posisi supinasi. Kaki klien
ditinggikan kemudian dibalut dengan pembalut elastis dari ibu jari sampai ke paha bagian bawah guna meminimalkan vaskularisasi ke bagian distal.
• Sebuah tourniquet ditempatkan pada tungkai proksimal klien. Kemudian kaki dibuat lebih rendah, sehingga lutut membentuk sudut 45º.
• Pembalut elastis dilepas lalu segera buat incici kecil di lutut, kemudian alat atroskopi dimasukkan di sela persendian lutut untuk melihat keadaan di dalam sendi lutut tersebut.
• Setelah pemeriksaan dilakukan atroskope dilepas dan dilakukan irigasi didaerah persendian, luka dibersihkan dan ditutup dengan kassa steril.
• Prosedur ini dilakukan di ruang operasi oleh ahli ortopedik yang memerlukan waktu 30 menit – 2 jam.
Kontraindikasi ;
• Klien dengan ankylosis, karena tidak memungkinkan benda-benda untuk bergerak pada sendi yang kaku oleh karena perlekatan.
• Klien dengan luka infeksi karena resiko sepsis.

2.1.6. Bone Densitometry
Merupakan pemeriksaan untuk mengetahui kadar mineral dalam tulang dan kepadatannya untuk mendiagnosa penyakit osteoporosis.
Faktor-faktor yang mempengaruhi/ mengganggu hasil densitometri tulang adalah:
• Barium. Bila dilakukan pemeriksaan paska pemberia barium hasilnya tidak terlalu bermakna kecuali setelah 10 hari dari waktu pemasukan zat kontras ini.
• Pengapuran pada vertebra posterior, arthritis sclerosis.
• Aneurisme pada aorta abdominal yang disebabkan oleh karena pengapuran.
• Penggunaan alat-alat metal, sehinga alat –alat ini harus dilepas sebelum pemeriksaan.
• Riwayat fraktur tulang yang mana telah mengalami proses penyembuhan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh perawat adalah :
• Klien tidak perlu puasa atau diberikan sedasi.
• Pemeriksaan ini memerlukan waktu 30 – 40 menit.
• Jelaskan pada klien bahwa ia akan dibarinkan pada sebuah matras pemeriksaan dengan kaki yang disokong dengan sebuah bantalan agar pelvis dan lumal tetap pada posisi datar.
• Sebuah alat “generator potton” akan ditempatkan didekat meja pemeriksaan yang nantinya dimasukkan perlahan dibawah lumbal. Sedangkan X-Ray detector akan berada diatas area yang akan diperiksa.
• Gambaran lumbal dan tulang pinggul dengan mengunakan kamera yang dihubungkan dengan monitoring computer.
• Kaki atau tangan yang tidak dominant dimasukkan ke dalam penjepit dan hasilnya akan diperlihatkan melalui computer baik hasil pada bagian paha, pinggul, lumbal atau bagian tangan sendiri.
Komputer akan menghitung jumlah potton yang tidak dapat diserap oleh tulang. Ini disebut BMC = Bone Mineral Content.
BMD ( Bone Mineral Density ) mempunyai rumus :
BMD = BMC (gm/ cm³) / permukaan area tulang.
Kemudian dari data tersebut akan dianlisa oleh ahli radiology.
Nilai Normal : – 1.0 )
Osteopenia : 1.0 –2,5 ( SD di bawah normal – 1.0 – 2.5 )
Osteoporosis : > 2,5 ( SD di bawah normal 12 mg/ dl

2 Asam urat urine 250 – 750 mg / hari atau
1,48 – 4,43 mmol/ hari Pada kasus Gout dan artritis akan megalami peningkatan dari nilai normal
3 SGOT 10 – 40  / ml
( SI : 0,08 – 0,32  mol –1/ l ) Meningkat akibat kerusakan otot.
4. Hb Darah LK : 13 – 18 mg/ dl
PR : 12 – 16 mg/ dl Menurun bila terjadi perdarahan akibat trauma.
5. Leukosit 4300 – 10.800/ mm3 Meningkat
6 Kalsium Serum 8,5 – 10,5 mg /dl Menurun pada Osteomalacia, Paget, tumor tulang yang telah metastase serta klien yang immobilisasi lama,
7 Kreatinin Kinase ( CK ) < 100 mg/ hari Meningkat akibat kerusakan otot
8. Hormon Paratiroid < 10 l equiv / ml
( SI : < 10 ml equiv/ l ) Meningkat
9. Tiroid ( TSH ) 0,5 – 3,5 u / ml
( SI : 0,5 – 3,5 mU/l ) Meningkat
10. Fosfor 3,0 – 4,5 mg/ dl Meningkat

Anatomi Fisiologi Sistem Integumen

1. Pengertian dan anatomi kulit

 Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh,merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh.
 Seluruh kulit beratnya sekitar 14% dari berat tubuh
Pada orang dewasa 2,7-3,6 kg
Luasnya 1,5 -1,9 meter persegi
Tebal kulit bervariasi mulai 0,5 mm-6mm tergantung dari letak,umur dan jenis kelamin
 Kulit tipis terletak pada kelopak mata,penis, labium minor
 Kulit bagian medial terletak pada lengan atas
 Kulit tebal terletak pada telapak tangan,telapak kaki, punggung,bahu dan bokong
Fungsi kulit
 1. Pelindung
 2. Peraba atau Alat komunikasi
 3. Alat Pengatur Panas
 4. Tempat Penyimpanan dan Produksi Vit D untuk pertumbuhan Tulang
 5. Alat Absorpsi
 6. Eksresi

 Kulit menutupi dan melindungi permukaan tubuh dan bersambung dengan selaput lendir yang melapisi rongga yang berfungsi sebagai :
1.pelindung
melindungi organ-organ tubuh.
Kulit menyediakan proteksi terhadap tubuh dalam berbagai cara sebagai yaitu berikut:
– Keratin melindungi kulit dari mikroba, abrasi (gesekan), panas, dan zat kimia. Keratin merupakan struktur yang keras, kaku, dan tersusun rapi dan erat seperti batu bata di permukaan kulit.
– Lipid yang dilepaskan mencegah evaporasi air dari permukaan kulit dan dehidrasi; selain itu juga mencegah masuknya air dari lingkungan luar tubuh melalui kulit.
– Sebum yang berminyak dari kelenjar sebasea mencegah kulit dan rambut dari kekeringan serta mengandung zat bakterisid yang berfungsi membunuh bakteri di permukaan kulit. Adanya sebum ini, bersamaan dengan ekskresi keringat, akan menghasilkan mantel asam dengan kadar pH 5-6.5 yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba.
– Pigmen melanin melindungi dari efek dari sinar UV yang berbahaya. Pada stratum basal, sel-sel melanosit melepaskan pigmen melanin ke sel-sel di sekitarnya. Pigmen ini bertugas melindungi materi genetik dari sinar matahari, sehingga materi genetik dapat tersimpan dengan baik. Apabila terjadi gangguan pada proteksi oleh melanin, maka dapat timbul keganasan.
– Selain itu ada sel-sel yang berperan sebagai sel imun yang protektif. Yang pertama adalah sel Langerhans, yang merepresentasikan antigen terhadap mikroba. Kemudian ada sel fagosit yang bertugas memfagositosis mikroba yang masuk melewati keratin dan sel Langerhans.

2. peraba atau alat komunikasi
 Merasakan sentuhan
 Rasa nyeri
 Perubahan suhu tekanan kulit dari jaringan subcutan
3. alat pengatur panas
Kulit berkontribusi terhadap pengaturan suhu tubuh (termoregulasi) melalui dua cara: pengeluaran keringat dan menyesuaikan aliran darah di pembuluh kapiler. Pada saat suhu tinggi, tubuh akan mengeluarkan keringat dalam jumlah banyak serta memperlebar pembuluh darah (vasodilatasi) sehingga panas akan terbawa keluar dari tubuh. Sebaliknya, pada saat suhu rendah, tubuh akan mengeluarkan lebih sedikit keringat dan mempersempit pembuluh darah (vasokonstriksi) sehingga mengurangi pengeluaran panas oleh tubuh.

 vasodilatasi
Kulit melebar, kulit panas,kelebihan panas dipancarkan melalui kelenjar keringat shg terjadi penguapan cairan pada permukaan kulit
 vasokontriksi
Pembuluh darah mengerut,kulit pucat dan dingin,hilangnya keringat dibatasi dan panas suhu tubuh tidak dikeluarkan
Panas dapat dilepaskan kulit dengan berbagai cara ;
 Penguapan
Terjadi melalui pernafasan dan prespirasi kulit
 pemancaran
Perpindahan panas dari permukaan suatu objek ke objek lainnya tanpa kontak diantara keduanya, contoh seseorang yg berdiri didepan kulkas yang terbuka
 Konduksi
Perpindahan panas dari permukaan suatu objek ke objek lainnya disertai dengan kontak diantara keduanya ,contoh seseorang akan kehilangan panas tubuhnya dengan berendam dengan air dingin selama waktu tertentu
 konveksi
Kehilangan panas tubuh yang terjadi karena udara ,contoh udara akan terasa dingin disaat kita membuka pintu rumah
4. tempat penyimpanan dan produksi vit D untuk pertumbuhan tulang
 kulit beraksi sebagai alat penampung air dan lemak ,yang dapat melepaskanya bila diperlukan
 kulit dan jaringan yang ada dibawahnya bekerja sebagai tempat penyimpanan air daN juga lemak
 Sintesis vitamin D dilakukan dengan mengaktivasi prekursor 7 dihidroksi kolesterol dengan bantuan sinar ultraviolet. Enzim di hati dan ginjal lalu memodifikasi prekursor dan menghasilkan calcitriol, bentuk vitamin D yang aktif. Calcitriol adalah hormon yang berperan dalam mengabsorpsi kalsium makanan dari traktus gastrointestinal ke dalam pembuluh darah.

 Walaupun tubuh mampu memproduksi vitamin D sendiri, namun belum memenuhi kebutuhan tubuh secara keseluruhan sehingga pemberian vitamin D sistemik masih tetap diperlukan.
 Pada manusia kulit dapat pula mengekspresikan emosi karena adanya pembuluh darah, kelenjar keringat, dan otot-otot di bawah kulit
5. alat absorpsi
 kulit dapat mengabsorpsi :
 sinar ultraviolet yang bereaksi atas prekusor vitamin D yang penting bagi pertumbuhan perkembangan tulang
 obat –obat tertentu yg digunakan sebagai salep
 Kulit tidak bisa menyerap air, tapi bisa menyerap material larut-lipid seperti vitamin A, D, E, dan K, obat-obatan tertentu, oksigen dan karbon dioksida. Permeabilitas kulit terhadap oksigen, karbondioksida dan uap air memungkinkan kulit ikut mengambil bagian pada fungsi respirasi. Selain itu beberapa material toksik dapat diserap seperti aseton, CCl4, dan merkuri. Beberapa obat juga dirancang untuk larut lemak, seperti kortison, sehingga mampu berpenetrasi ke kulit dan melepaskan antihistamin di tempat peradangan.

 Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme dan jenis vehikulum. Penyerapan dapat berlangsung melalui celah antarsel atau melalui muara saluran kelenjar; tetapi lebih banyak yang melalui sel-sel epidermis daripada yang melalui muara kelenjar
6. Ekskresi
Zat berlemak, air dan ion2 seperti Na+ disekresikan melalui kulit
Kulit juga berfungsi dalam ekskresi dengan perantaraan dua kelenjar eksokrinnya, yaitu kelenjar sebasea dan kelenjar keringat:
– Kelenjar sebasea
Kelenjar sebasea merupakan kelenjar yang melekat pada folikel rambut dan melepaskan lipid yang dikenal sebagai sebum menuju lumen. Sebum dikeluarkan ketika muskulus arektor pili berkontraksi menekan kelenjar sebasea sehingga sebum dikeluarkan ke folikel rambut lalu ke permukaan kulit. Sebum tersebut merupakan campuran dari trigliserida, kolesterol, protein, dan elektrolig. Sebum berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri, melumasi dan memproteksi keratin.
– Kelenjar keringat
Walaupun stratum korneum kedap air, namun sekitar 400 mL air dapat keluar dengan cara menguap melalui kelenjar keringat tiap hari. Seorang yang bekerja dalam ruangan mengekskresikan 200 mL keringat tambahan, dan bagi orang yang aktif jumlahnya lebih banyak lagi. Selain mengeluarkan air dan panas, keringat juga merupakan sarana untuk mengekskresikan garam, karbondioksida, dan dua molekul organik hasil pemecahan protein yaitu amoniak dan urea.
Terdapat dua jenis kelenjar keringat, yaitu kelenjar keringat apokrin dan kelenjar keringat merokrin.
– Kelenjar keringat apokrin terdapat di daerah aksila, payudara dan pubis, serta aktif pada usia pubertas dan menghasilkan sekret yang kental dan bau yang khas. Kelenjar keringat apokrin bekerja ketika ada sinyal dari sistem saraf dan hormon sehingga sel-sel mioepitel yang ada di sekeliling kelenjar berkontraksi dan menekan kelenjar keringat apokrin. Akibatnya kelenjar keringat apokrin melepaskan sekretnya ke folikel rambut lalu ke permukaan luar.
– Kelenjar keringat merokrin (ekrin) terdapat di daerah telapak tangan dan kaki. Sekretnya mengandung air, elektrolit, nutrien organik, dan sampah metabolisme. Kadar pH-nya berkisar 4.0 – 6.8. Fungsi dari kelenjar keringat merokrin adalah mengatur temperatur permukaan, mengekskresikan air dan elektrolit serta melindungi dari agen asing dengan cara mempersulit perlekatan agen asing dan menghasilkan dermicidin, sebuah peptida kecil dengan sifat antibiotik.

3. Lapisan kulit
 1. Epidermis
 2. Dermis
 3. Sub Dermis
Lapisan kulit
1. epidermis / kutikula
 Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan Avaskuler
 terdiri dari epitel berlapis gepeng bertanduk,mengandung sel melanosit, langerhans dan merkel
 Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tmpt di tubuh,paling tebal pada telapak tangan dan kaki
 Ketebalan epidermis hanya sekitar 5 % dari seluruh ketebalan kulit
 terjadi regenerasi setiap 4-6 minggu
 epidermis terdiri dari atas lima lapisan (dari lapisan terluar sampai lapisan terdalam ).

Epidermis terdiri dari atas 5 Lapisan
(dari lapisan terluar sampai lapisan terdalam ).
 Stratum germinatium (stratum basale + S.Spinosum )
Berbentuk silidris dengan bentuk yg lonjong,terdapat butir-butir melanin( suatu pigment yang berwarna hitam,pada lapisan terdalam epidermis). Menjadi pusat pembelahan sel yang cepat.dan sel baru didorong masuk kelapisan berikutnya
 stratum Spinosum / stratum akantosum,yaitu lapisan yang paling tebal dan terdiri dari banyak glikogen .sel2nya disebut spinosum karena terdiri dari sel yang berbentuk poligonal / banyak sudut dan mempunyai banyak tanduk (spina),disebut akantosum sebab sel2nya berduri .
 sel melanosit berfungsi sebagai sistem pigmentasi kulit
 Langerhans cell berfungsi sebagai sistem imun
 Markels cell berfungsi sebagai s. imun,pembentukan fibroblast kolagen
 Stratum granulosum, merupakan sel gepeng berkulit kasar dan berinti, sel- sel tersebut terdapat hanya 2-3 lapisan yang sejajar dengan permukaan kulit
 Stratum lusidum , merupakan sel gepeng tanpa inti ,yang jelas terlihat pada telapak kaki dan tangan dgn ketebalan empat sampai tujuh lapisan sel
 Stratum korneum / lapisan tanduk , terdiri dari beberapa lapisan sel gepeng yang mati dan tidak berinti
 Protoplasmanya telah berubah menjadi keratin ( zat tanduk )
 Mekanisme pertumbuhan kulit (kreatinisasi ) terutama dipengaruhi oleh hormon epidermal Growth factor (EPF)

Fungsi epidermis;
 1. proteksi barier
 2. organisasi sel
 3. sintesis vitamin D dan Sitokinin
 4. pembelahan dan mobilisasi sel
 5. pigmentasi (melanosit ).
 6. pengenalan alergen (sel langerhans )
2. Dermis
 Merupakan lapisan kedua dari kulit dan bagian terpenting dari kulit yang sering disebut “ true skin “
 terdiri dari jaringan ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkannya dengan jaringan subkutis
 Tebalnya bervariasi, yang paling tebal pada telapak kaki sekitar 3mm. lapisan yang mempunyai ketebalan 4x lipat dari lapisan epidermis (kira2 0,25 -2,55 mm)
 Lapisan ini mengandung pembuluh darah ,pembuluh limfe dan saraf dan juga lapisan elastic, fibrosanya padat dan terdapat folikel rambut
Dermis terdiri dari 2 lapisan
1. Bagian atas, pars papilare (stratum papilare)
 Menonjol ke epidermis, terdiri dari serabut saraf , dan pembuluh darah yang memberi nutrisi pada epidermis yg diatasnya
 Merupakan lapisan tipis dan terdiri dari jaringan penghubung yang longgar ,menghubungkan lapisan epidermis kelapisan subcutis,
 Banyak terdapat sel mast dan sel makrofag yg diperlukan untuk menghancurkan mikroorganisme
 Yang menembus lapisan dermis, dan berfungsi sebagai pelindung dilapisan ini jg terdapat sejumlah kecil elastin dan kolagen
 Serabut elastis bertugas memberikan kelenturan pada kulit dan memberi kekuatan pada alat disekitar kelenjar dan folikel rambut
 sejalan dengan bertambahnya usia, pada simpul kolagen dan serat elastik mengakibatkan pengeriputan kulit
 Serabut kolagen bertugas memberi kekuatan pada kulit
 Lapisan ini berbentuk gelombang terjulur ke lapisan epidermis yang tidak mempunyai pembuluh darah
2. Bagian bawah, pars retikulare(stranum retikularis)
 Menonjol kearah subcutan, serabut penunjang yaitu serabut kolagen,elastis dan serabut retikulus
 Merupakan lapisan tebal dan terdiri jaringan penghubung padat dengan susunan yang tidak merata,
 disebut lapisan retikular karena banyak terdapat serat elastin dan kolagen yang sangat tebal dan saling berangkai satu sama lain menyerupai jaring-jaring
Komponen dari lapisan dermis berisi banyak struktur khusus yang melaksanakan fungsi kulit terdiri dari :
1.Kelenjar sebaceous
 menghasilkan sebum,zat semacam lilin ,asam lemak , trigliserida bertujuan untuk melumasi permukaan kulit dikeluarkan melalui folikel rambut yang mengandung banyak lipid, pada orang yang berjenis kulit berminyak, maka kelenjar sebaseanya lebih aktif memproduksi minyak
 kelenjar sebasea ini jg dapat berfungsi untuk proses difusi( perpindahan ) kandungan bahan dalam suatu produk kelapisan paling dalam
 Gambar di bawah menunjukkan terjadinya penyumbatan pada kelenjar sebasea sehingga terbentuk jerawat ( acne )
Jadi bisa disimpulkan jerawat bersumber dari lapisan dermis

Komponen dari lapisan dermis berisi banyak struktur khusus yang melaksanakan fungsi kulit terdiri dari :
2. Eccglrie sweat glands atau kelenjar keringat
 Mengatur penguapan untuk mendinginkan tubuh saat suhu lingkungan meningkat yang kita kenal dengan keringat dan membuang sisa metabolisme tubuh sebagian besar terdiri dari garam dan urea
 Pembuluh darah memberikan nutrisi penting untuk kulit, baik vitamin , oksigen maupun zat-zat penting lainnya untuk metabolisme sel kulit , selain itu pembuluh darah
3. Folikel rambut, merupakan tempat pangkal tumbuhnya rambut
4. syaraf nyeri dan reseptor sentuh,
syarat-syarat yang membuat kita peka dan dapat merasakan nyeri atau sakit, bila ada sesuatu yang menciderai kulit jg syaraf2 yg berfungsi memberi rasa sentuhan pada kita sehingga kita dapat merasakan panas, dingin, meraba benda2 lain
Subcutis / hypodermis
 Subcutis terdiri dari kumpulan2 sel lemak dan diantaranya terdapat serabut-serabut jaringan ikat dermis
 Lapisan lemak ini disebut “penikulus adiposus “ berguna sbgai shockbreker atau pegas bila terjadi tekanan trauma mekanis yg menimpa pada kulit dan juga bagi tmpt penimbunan kalori
 Dibawah subcutis terdapat
 Selaput otot kemudian baru terdapat otot
Penyakit radang kulit yg mengenai lapisan atas kulit

Metode / teknik penularan dan penyebaran virus HIV AIDS :vDarah
 Contoh : Tranfusi darah, terkena darah hiv+ pada kulit yang terluka, terkena darah menstruasi pada kulit yang terluka, jarum suntik, dsb
 vCairan Semen, Air Mani, Sperma dan Peju Pria
 Contoh : Laki-laki berhubungan badan tanpa kondom atau pengaman lainnya, oral seks, dsb.
 vCairan Vagina pada Perempuan
 Contoh : Wanita berhubungan badan tanpa pengaman, pinjam-meminjam alat bantu seks, oral seks, dll.
 vAir Susu Ibu / ASI
 Contoh : Bayi minum asi dari wanita hiv+, Laki-laki meminum susu asi pasangannya, dan lain sebagainya.
 Cairan Tubuh yang tidak mengandung Virus HIV pada penderita HIV+ :
 ØAir liur / air ludah / saliva
 ØFeses / kotoran / bab / tinja
 ØAir mata
 ØAir keringat
 ØAir seni / air kencing / air pipis / urin / urine
4. Pelengkap kulit (derivatif kulit)
 1. rambut
 berada diseluruh bagian tubuh
 Sebagian besar berupa rambut Vellus (rambut halus yg menggantikan lanugo ) dan tidak berwarna atau samar
 Rambut tumbuh dari folikel rambut diepidermis
Bentuk rambut
Rambut panjang : di kepala, pubis dan jenggot
Rambut pendek
Dilubang hidung , liang telinga dan alis
Rambut bulu lanugo
Diseluruh tubuh
Rambut seksual
Dipubis dan axilla
Hubungan fisiologi kulit dengan organ-organ lain
Sistem kulit membentuk permukaan eksternal tubuh dan melindungi dari dehidrasi, kimia lingkungan, dan pajanan terhadap agen asing. Sistem kulit dipisahkan dari sistem tubuh yang lain oleh jaringan subkutan namun tetap terhubung dengan sistem tubuh yang lain dengan sistem sirkulasi, limfatik serta sistem saraf. Hasilnya, aktifitas fisiologis kulit selalu terintegrasi dengan sistem-sistem tubuh yang lain.
1. Sistem skeletal
– Kulit mengaktifkan vitamin D3 (calcitriol) yang akan membantu penyerapan kalsium dan fosfor di saluran cerna. Kalsium dan fosfor berfungsi unuk membangun dan memelihara tulang.
– Sistem skeletal menyediakan dukungan struktural untuk kulit.
2. Sistem muskular
– Kulit, melalui produksi vitamin D (calcitriol) membantu menyediakan ion kalsium yang berguna untuk kontraksi otot.
– Kontraksi otot di daerah kulit muka menghasilkan ekspresi wajah.
3. Sistem saraf
– Ujung saraf pada kulit akan menghantarkan sinyal terkait sentuhan, tekanan, suhu, dan nyeri.
– Sistem saraf pusat mengatur aliran darah dan pengeluaran keringat untuk termoregulasi.
– Sistem saraf menstimulasi kontraksi muskulus arektor pili untuk menegakkan rambut.
4. Sistem endokrin
– Keratinosit pada kulit membantu mengaktivasi vitamin D menjadi calcitriol, sebuah hormon yang mempermudah penyerapan kalsium dan fosfor di saluran cerna.
– Hormon seks menstimulasi aktivitas kelenjar sebasea, mempengaruhi pertumbuhan, distribusi lemak subkutan, dan aktifitas kelenjar keringat.
– Hormon adrenal mengatur aliran darah di dermis dan membantu memobilisasi lemak di adiposit.
5. Sistem kardiovaskular
– Perubahan kimia setempat di kulit (dermis) akan menyebabkan perubahan vaskular (melebar atau menyempit) yang mempengaruhi aliran darah setempat.
– Sistem kardiovaskular menyediakan oksigen dan nutrien, menghantarkan hormon dan sel-sel imun.
– Pembuluh darah menghantarkan karbondioksida, sampah metabolisme, dan toksin.
– Sistem kardiovaskular menyediakan panas untuk mengatur suhu kulit.
6. Sistem limfatik dan imunologi
– Kulit adalah pertahanan pertama dalam imunitas, menyediakan sawar mekanik dan sekret kimia untuk menghalau penetrasi mikroba.
– Sel-sel Langerhans pada epidermis berperan dalam imunologi dengan cara pengenalan antigen terhadap agen asing.
– Makrofag memfagosit mikroba yang berhasil mempenetrasi permukaan kulit.
– Sistem limfatik melindungi integumen dengan menyediakan makrofag tambahan dan memobilisasi limfosit.
7. Sistem pernapasan
– Rambut hidung berfungsi menyaring partikel debu dari udara yang dihirup.
– Stimulasi pada ujung saraf nyeri dapat mengubah laju pernapasan.
– Sistem pernapasan menyediakan oksigen untuk jaringan dan mengeliminasi karbondioksida.
8. Sistem pencernaan
– Kulit mengaktifkan vitamin D3 (calcitriol) yang akan membantu penyerapan kalsium dan fosfor di saluran cerna.
– Sistem pencernaan menyediakan nutrien untuk sel dan simpanan lipid di adiposit.
9. Sistem saluran kemih
– Ginjal menerima sebagian hormon vitamin D dari kulit dan mengubahnya menjadi calcitriol
– Ekskresi sampah metabolisme melalui kelenjar keringat turut berperan dalam menentukan jumlah ekskresi melalui tubulus ginjal.
10. Sistem reproduksi
– Ujung saraf di kulit dan subkutan berespon terhadap stimulus erotik dan berkontribusi terhadap kepuasan seksual.
– Gerakan menghisap bayi pada puting susu ibu menstimulasi ujung saraf di kulit dan menyebabkan keluarnya ASI.
– Kelenjar susu (modifikasi dari kelenjar keringat) memproduksi ASI.
– Kulit mengalami pelebaran (hiperplasia) selama kehamilan terkait pertumbuhan fetus.
– Hormon-hormon seks mempengaruhi distribusi rambut, sel adiposa dan perkembangan
kelenjar payudara.
Keratinisasi kulit
Keratinisasi merupakan suatu proses pembentukan lapisan keratin dari sel-sel yang membelah. Keratinosit dimulai dari sel basal mengadakan pembelahan, lalu sel basal akan berpindah ke atas dan berubah bentuknya menjadi sel spinosum, makin ke atas sel menjadi makin gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. Makin lama inti menghilang, mengalami apoptosis dan menjadi sel tanduk yang amorf. Sel-sel yang sudah mengalami keratinisasi akan meluruh dan digantikan dengan sel di bawahnya yang baru saja mengalami keratinisasi untuk kemudian meluruh kembali, begitu seterusnya. Proses ini memakan waktu sekitar empat minggu untuk epidermis dengan ketebalan 0.1 mm. Apabila kulit di lapisan terluar tergerus, seperti pada abrasi atau terbakar, maka sel-sel basal akan membelah lebih cepat. Mekanisme pertumbuhan ini terutama dipengaruhi oleh hormon epidermal growth factor (EPF).

Pembentukan warna pada kulit
Warna pada kulit dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu pigmentasi epidermis dan sirkulasi kapiler yang ada di lapisan dermis.
Pigmentasi epidermis dipengaruhi oleh dua pigmen, yaitu karoten dan melanin
– Karoten merupakan pigmen merah-jingga yang berakumulasi di epidermis. Paling banyak terdapat di stratum korneum pada orang berkulit terang, juga di jaringan lemak pada lapisan dermis dan subkutis. Perubahan warna yang diakibatkan oleh karoten paling terlihat pada orang berkulit pucat, sedangkan pada orang berkulit gelap sulit terlihat. Karoten dapat dikonversi menjadi vitamin A yang diperlukan untuk pemeliharaan epitel dan sintesis fotoreseptor di mata.
– Melanin merupakan pigmen kuning-coklat, atau hitam yang diproduksi oleh melanosit. Melanosit sendiri berada di antara sel-sel basal dan memiliki juluran ke sel-sel di atasnya. Perbandingan jumlah melanosit dan sel basal bervariasi, mulai dari 1:20 sampai 1:4. Badan Golgi melanosit membentuk melanin dari tyrosin dengan bantuan Cu dan oksigen, lalu mengemasnya menjadi vesikel-vesikel melanosom. Melanosom ini akan dihantarkan melalui juluran melanosit dan mewarnai sel-sel keratin di atasnya sampai didegradasi oleh lisosom.
Jumlah melanosit baik pada orang kulit hitam maupun kulit putih adalah sama, yang berbeda adalah aktivitas dan produksi pigmennya (melanosit). Pada orang kulit pucat transfer melanosom hanya sebatas stratum spinosum, sedangkan pada orang berkulit gelap melanosom dapat dihantarkan hingga ke stratum granulosum.
Sirkulasi darah yang ada di dalam pembuluh kapiler pada dermis juga berperan dalam menentukan warna kulit. Hemoglobin yang fungsinya untuk mengangkut oksigen adalah bersifat pigmen. Ketika berikatan dengan oksigen, hemoglobin akan berwarna merah terang sehingga memberikan pewarnaan merah pada pembuluh kapiler. Ketika pembuluh-pembuluh tersebut mengalami dilatasi, maka warna merah pada kulit akan semakin jelas. Contohnya jika saat suhu tubuh sedang tinggi, maka pembuluh darah akan melebar untuk melepaskan panas dan pada saat yang sama akan menimbulkan citra merah pada kulit tersebut. Sebaliknya ketika suplai darah berkurang (misalnya pada gagal jantung) maka kulit akan berubah relatif pucat akibat penyempitan pembuluh kapiler.

Efek penuaan pada kulit
Usia yang menginjak 40 tahun akan memberi gambaran penuaan berupa perubahan-perubahan tertentu pada kulit. Kebanyakan perubahan tersebut terjadi di lapisan dermis.
– Fibroblas, yang memproduksi serat kolagen dan elastin, akan mengalami penurunan jumlah dalam proses penuaan. Serat kolagen menjadi berkurang, mengeras, dan terurai ke dalam bentuk yang tidak beraturan. Sedangkan serat elastin menjadi kehilangan elastisitasnya, menebal dan robek. Sehingga kulit pada penuaan akan menghasilkan gambaran celah yang disebut sebagai kerut.
– Sel-sel Langerhans akan berkurang jumlahnya dan makrofag menjadi kurang aktif sehingga menurunkan aktifitas imun pada kulit.
– Produksi keringat berkurang dan kelenjar sebasea akan mengecil sehingga produksi sebum akan berkurang menyebabkan kulit menjadi kering dan lebih rentan terhadap infeksi (karena mantel asam tidak efektif).
– Melanosit fungsional akan berkurang sehingga menyebabkan rambut berwarna putih (uban) dan pigmentasi yang atipikal. Sedangkan beberapa melanosit lain akan mengalami pembesaran dan menghasilkan ruam-ruam pigmen.
– Dinding pembuluh darah dermis menjadi lebih tebal dan kurang permeabel.
– Jaringan lemak adiposa menjadi longgar.
– Proses migrasi sel basal menjadi sel permukaan berjalan lebih lambat, sehingga penyembuhan apabila ada cedera juga menjadi lama.
Proses perbaikan pada kulit yang cedera
Kerusakan (cedera) pada kulit akan memicu suatu sekuens yang akan memperbaiki jaringan yang rusak. Terdapat dua jenis penyembuhan: (1) penyembuhan epidermis untuk cedera yang tidak terlalu dalam dan (2) penyembuhan mendalam, yaitu apabila cedera tidak hanya merusak jaringan epidermis saja, tapi juga ikut merusak jaringan dermis dan subkutan.
1. Penyembuhan epidermis
Penyembuhan epidermis terjadi apabila cedera terdapat hanya sebatas epidermis. Sel-sel basal yang dipisahkan oleh daerah cedera akan menyatu, dan berkembang mengisi daerah yang mengalami cedera. Mekanisme pengisian daerah cedera ini diperantarai oleh EGF (epidermal growth factor) yang akan menyebabkan sel basal berproliferasi dan menyebabkan penebalan epidermis yang rusak.
2. Penyembuhan mendalam
Penyembuhan mendalam terjadi apabila cedera meliputi hingga ke daerah dermis dan subkutis. Karena cederanya lebih luas dibandingkan dengan cedera epidermis saja, maka proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding penyembuhan epidermis. Selain itu, terbentuknya jaringan parut dapat membuat daerah penyembuhan kehilangan fungsi fisiologisnya. Penyembuhan mendalam ini meliputi empat fase:
– Fase inflamatorik
Pada fase inflamatorik, terjadi peristiwa inflamasi (respons selular dan vaskular) yang meliputi antara lain vasodilatasi, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, serta rekrutmen sel-sel fagosit untuk mengeliminasi agen penyebab cedera/jejas. Selain itu pada fase inflamatorik juga terjadi penggumpalan darah untuk menyatukan daerah yang terpisah akibat cedera.
– Fase migratorik
Pada fase migratorik, terjadi perpindahan fibroblas untuk membentuk jaringan parut. Juga akan terbentuk keropeng di daerah cedera.
– Fase proliferatif
Pada fase proliferatif, terjadi pertumbuhan sel-sel epitel di bawah keropeng, deposisi fibroblas yang semakin banyak dan pembentukan kapiler-kapiler baru.
– Fase maturasi
Pada fase maturasi, keropeng yang terbentuk akan meluruh dan digantikan dengan jaringan sehat dan kulit kembali ke ketebalannya semula. Kolagen menjadi lebih tersusun, fibroblas berkurang, dan kapiler darah telah normal kembali.

Rahasia Membangun Introspeksi Rohani

“Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka” 2 Tawarikh 7:14

Apakah kita membuka hati dan menyambut Roh Kudus untuk melakukan introspeksi rohani setiap hari?

Untuk melakukan introspeksi rohani berarti menjalankan pemeriksaan mental yang rinci tentang perasaan, pikiran dan motif kita sendiri. Setiap kali saya membaca tentang kisah hidup Raja Saul sudah pasti membuat saya ingin melakukan introspeksi rohani hati saya sendiri. Pemeriksaan mental semacam ini bisa amat bermanfaat, meski kadangkala menyakitkan, ini dapat menjaga agar kita tidak ditipu musuh dan membuat kita lebih kuat di dalam Tuhan.
*courtesy of PelitaHidup.com
Tidak seorangpun dari kita yang ingin ditipu ke dalam jalan tipu-muslihat seperti Saul. Ia telah diurapi sebagai Raja Israel yang ditunjuk dan diurapi Allah. Bagaimana pun, ia telah membuat pilihan-pilihan yang buruk dalam hidupnya, saat ia sedang mabuk kekuasaan dan terlalu berbangga pada dirinya sendiri.

Pelajaran tentang hidup pribadi Raja Saul yang karam adalah pelajaran paling bijaksana tentang daya rusak sifat kepala batu, ketidak-taatan dan pendurhakaan yang membawa maut. Sebenarnya ada banyak lampu peringatan yang berkelap-kelip mengingatkan bahaya yang akan datang dalam hidup Raja Saul, yang diabaikannya. Saul menjalani hidup mengabaikan peringatan atas melencengnya ia dari jalan Allah!

Mari kita lihat beberapa peringatan pada Saul yang dapat menjadi panduan bagi kita untuk melakukan introspeksi rohani:

Ketidaksabaran

Kesalahan Saul dimulai dengan ketidaksabaran dengan rancangan Allah, disebabkan ia lebih tertarik pada dan kekuatiran tentang usahanya menyenangkan hati manusia ketimbang hati Allah, yang bukan sifat orang beriman (1 Samuel 13:11-13)

Sebagaimana dinyatakan Paulus dengan fasih, “Adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Galatia 1:10

Ketidakpedulian

Saul tidak sadar tentang putranya, peperangan, dan malah kemenangan. Ia mengabaikan semua itu (1 Samuel 14:1-3). Apakah anda bersikap apatis dan kadangkala melupakan segalanya yang Allah lakukan disekitar anda?

Kata-kata gegabah

Saul berucap tanpa berpikir panjang apa dampaknya bagi keluarganya atau negaranya (1 Samuel 14:24). Apakah anda berpikir dua kali atau membuat keputusan yang gegabah yang berakibat menyakitkan?

Ketaatan yang tidak lengkap

Saul memakai ketaatan memilih demi kepentingan diri sendiri ketimbang ketaatan menghormati Allah secara menyeluruh dan seutuhnya (1 Samuel 15:9). Apakah anda taat sepenuhnya kepada firman Allah dan melakukan semua yang diberitahukan-Nya?

Meragukan kekuasaan Allah

Saul tidak mempunyai pengertian tentang Allah yang Mengagumkan yang telah menampakkan diri-Nya kepadanya. Apakah anda menemukan diri anda sendiri meragukan kuasa Allah dan hidup dalam ketakutan akan masa depan?
*courtesy of PelitaHidup.com
Saul tidak membina ibadah pribadi dengan Allah. Tidak ada pencarian Allah pada tingkat pribadi atau ibadah pribadi yang dipersembahkan kepada Allah dari hati Saul ke Allah Saul! (1 Samuel 15:30). Apakah anda membina hubungan yang mendalam dengan Allah?

Kedengkian yang besar terhadap Daud

Saul didorong oleh nafsu untuk memenuhi kepentingannya sendiri yang terungkap melalui keinginan agar menjaga orang lain tidak mendapatkan sesuatu yang ingin dimilikinya sendiri; ini adalah bentuk kedengkian yang paling buruk (1 Samuel 18:8-10). Adakah orang di tempat kerja yang menyebabkan anda merasa iri hati dan yang membangkitkan kemarahan yang besar?

Tidak membenci dosa

Apakah anda membenci hal-hal yang dibenci Tuhan (dosa), dan jika demikian, apakah tindakan anda sehari hari menggambarkan nilai ini? (1 Samuel 28:17-19)

Kita sebaiknya belajar dari kejadian sejarah ini agar memastikan kita tidak ditipu ke dalam jalan menuju kebinasaan diri sendiri yang serupa. Ini jalan mudah menuju kebinasaan oleh si maha penipu – iblis, karena memiliki kelokan berliku-liku dan putaran yang tidak pasti, yang dengan mudah dapat dilihat dengan keliru sebagai jalan Allah, kecuali kita memahami Firman dengan baik dan tetap tinggal berakar di dalam Kristus.

Sebagaimana biasanya, kuncinya adalah untuk sehari-hari tetap tinggal dalam Firman Allah dan tetap berdoa tanpa akhir. Kita tidak mungkin tetap berada di jalan yang benar, dan tidak ditipu, dengan memakai kekuatan kita sendiri.Tidak peduli bagaimana dewasanya kita di dalam Tuhan, karena yang terpilih bisa saja juga tertipu.

Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.” Matius 24:24

Kembali saya ulangi, jalan satu-satunya kita menjaga agar tidak ditipu adalah untuk menyimpan Firman Tuhan di dalam hati kita dan tetap berdoa (1 Tesalonika 5:17). Mari kita minta Allah untuk memperlihatkan kejahatan yang mungkin timbul di dalam pikiran dan jiwa kita dan membiarkan Roh Kudus menghapus melalui pengampunan Kristus.

Tuhan, tolong sadarkan kami atas ketidakbenaran apapun dalam hati kami. Tolong bawa kami lebih dekat kepada-Mu dan jadikan hati kami sebersih salju melalui kuasa pengampunan dari darah Yesus Kristus. Di dalam nama Yesus kami berdoa, Amin.

Nikmatilah hari penuh kuasa, damai sejahtera melakukan introspeksi rohani di tempat kerja dan di rumah!

Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.” Filipi 2:3

Bob Bennett, Real Men Ministries, 32609 Long Iron Way, Long Neck, DE 19966

 

Sumber :

pelitahidup.com