FORMASI BARU MANCHESTER UNITED : 4-4-2 BERLIAN YANG BRILIAN

Manchester United merupakan salah satu tim sepakbola yang memiliki sejarah panjang nan membanggakan. Berbagai catatan gemilang yang mewarnai perjalanan klub kebanggaan kota Manchester itu tentunya tak terlepas dari tangan dingin manajer kawakan Sir Alex Ferguson.

Sir Alex Ferguson sendiri telah 26 tahun menangani The Red Devils. Ia dikenal sebagai sosok yang tegas, terutama dengan Hair-Dryer Treatment. Sebuah terapi pengering rambut yang mampu menendang Mega bintang sekelas David Beckham dari Old Trafford.

Untuk urusan skema permainan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pria Skotlandia adalah manajer yang sedikit konservatif atau bahkan bisa dibilang sedikit kuno dalam hal pemilihan formasi , Manchester United dalam era SAF akan selalu identik dengan 4-4-2 klasik khas britania dengan kreatifitas tingkat tinggi dari sayap sayapnya dan para gelandang box to box di pusat permainan  MU.

Skema klasik ini mengandalkan sayap-sayap berkemampuan fantastis untuk menerbangkan klub dengan koleksi gelar terbanyak di Inggris ini. Nama-nama macam George Best, Ryan Giggs, Cristiano Ronaldo, Antonio Valencia, Ashley Young, ataupun Luis Nani (yang sepertinya telah bersiap untuk angkat kaki dari “Theatre Of Dream”) adalah sedikit nama yang pernah ataupun masih membela MU.

Dalam beberapa tahun terakhir, hanya  formasi 4-5-1 yang digunakan sebagai alternatif formasi oleh SAF, biasa digunakan apabila bertandang terutama di partai partai liga champions atau di pertandingan yang berpotensi menyulitkan United.

Di awal musim ini, SAF membeli bintang muda yang sedang naik daun, Shinji Kagawa dari juara Jerman, Borussia Dortmund, serta eks kapten Arsenal, Robin van Persie. Kedatangan Kagawa dan RvP pada musim ini bisa dikatakan sebagai langkah dari revolusi formasi SAF. Dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki pemuda Jepang, ditunjang fleksibilitas tingkat tinggi dari RvP maupun penghuni lama, Wayne Rooney, Opa Fergie kini menemukan alternative baru yakni 4-1-2-1-2 atau 4-4-2 Diamond. Ya, ini adalah alternative terbaik yang harus dilakukan karena Kagawa dan Wazza akan tersia-siakan dengan pola 4-4-2 yang bertumpu pada mobilitas kedua sayap.

Pada formasi ini Wazza berdiri di ujung depan dari berlian lini tengah MU. Ia memainkan peran penting sebagai “playmaker”. Kontribusinya tentu sangat dibutuhkan untuk menopang serangan MU lewat assist-assitnya atau juga bisa tiba-tiba muncul sebagai “False Nine”. Peran ini sebenarnya juga bisa diberikan pada Shinji Kagawa, karena inilah posisi favoritnya. Ada juga darah segar, Nick Powell yang terlihat cukup fasih memainkan peran tersebut. Satu sosok lain yang juga bisa diperhitungkan memainkan peran ini yakni legenda hidup, Ryan Giggs. Namun Wayne Rooney adalah pilihan terbaik.

Di ujung sebaliknya Michael Carrick, Darren Fletcher, ataupun Phil Jones telah siap memainkan peran sebagai “Holding-Midfielder” atau gelandang jangkar. Satu dari 3 opsi ini kebagian tugas untuk menjadi penangkal pertama serangan lawan, juga merusak irama permainan lawan.

2 tempat tersisa akan diperebutkan oleh Tom Cleverley, Shinji Kagawa, Anderson Oliveira dan Paul Scholes. Peran dari 2 pemain yang dipasang akan terlihat seperti “Xaviesta” di Barcelona. Tiga nama pertama punya kemampuan bagus memainkan umpan-umpan pendek. Sementara The Ginger Prince juga tidak perlu diragukan lagi kemampuannya. Meski selama ini lebih akrab dengan 4-4-2 konservatif, pengalaman serta kemampuannya yang jauh di atas rata-rata akan membuat ia cepat beradaptasi dengan pola baru.

Selain empat nama diatas masih ada pula duet pemain masa depan MU yakni Davide Petrucci dan Jesse Lingard. Tidak ada salahnya jika keduanya lebih sering dimainkan bersama dalam formasi berlian di tim reserves, agar kelak menjadi duet brilian di lini tengah tim utama MU.

Mirisnya strategi ini akan mengorbankan sayap-sayap macam Luis Nani dan Ashley Young. Dua pemain ini memang bisa ditempatkan di posisi Wazza, atau juga salah satunya bisa ditandemkan dengan RvP, Chicharito, maupun Welbeck di lini depan. Namun mengingat itu bukan spesialisasi mereka, ditambah masih banyak pemain lain yang lebih fasih dalam memainkan peran tersebut maka akan sangat sulit bagi keduanya mendapat tempat dalam formasi ini. Antonio Valencia mungkin lebih beruntung. Ia fasih bila berperan sebagai “full-back kanan”. Namun performa yang makin konsisten dari Rafael Da Silva, plus kemampuan tak kalah baik dari Phil Jones dan Chris Smalling yang juga biasa ditempatkan di posisi ini membuat pria Ekuador punya banyak pesaing.

Apapun itu menyingkirkan ketiga pemain ini bukanlah solusi yang ideal. Tiga pemain ini tetap dibutuhkan jika diamond mengalami kebuntuan sehingga harus kembali ke pola konservatif yang telah mengakar dalam sejarah Manchester United.

Dengan lini tengah yang sedemikian rupa maka pola permainan MU pun mengalami perubahan. Permainan possession football yang mengandalkan umpan-umpan pendek kini mulai bisa dinikmati para pendukung setia MU.

Saatnya mengusik lini lainnya!!

Di posisi penjaga gawang, makin matangnya David De Gea di bawah mistar sepertinya akan membuat ia akan lebih sering mendapat kesempatan bermain ketimbang pesaing utamanya Anders Lindegaard. Yang juga harus diwaspadai pemuda Spanyol dan pria Denmark ini yakni Benjamin Amos yang sedang mengalami masa peminjaman. Dengan makin banyak kesempatan bermain, Amos tentu akan makin matang. Satu sosok lain yang juga bisa menjadi ancaman yaitu Sam Johnstone. Peminjaman Ben Amos membuat Sam Johnstone mulai sering mendapat kesempatan bermain di tim Reserves, bahkan mulai terlihat di bench tim utama MU di Capital One Cup, BPL, maupun UCL. Tapi sekali lagi, untuk saat ini David De Gea adalah pilihan terbaik.

Di lini pertahanan, MU kini punya masalah besar yang harus segera diatasi. Ketidakhadiran kapten Nemanja Vidic yang mulai akrab dengan cedera membuat lini belakang MU terlihat keropos dan mudah dieksploitasi lawan, terutama lewat umpan silang dan bola mati. Duet sehatinya, Rio Ferdinand juga tidak lagi secepat dulu, pergerakan mulai melambat seiring usia yang menua. Meski punya kemampuan membaca permainannya masih sama seperti dulu, namun fisik yang menurun membuat Fergie harus segera memoles bek-bek mudanya, atau bahkan masuk ke pasar transfer untuk mencari sosok bek tangguh sebagai pengganti. Selain dua nama ini, sebenarnya MU punya bek-bek tengah muda berkualitas macam Jonny Evans, Chris Smalling, Phil Jones, atau bahkan Scott Wooton dan Michael Keane. Hanya saja mereka masih membutuhkan sedikit polesan plus jam terbang lebih untuk bisa disandingkan dengan dua bek senior (Ferdinand-Vidic).

2 dari 7 opsi di atas akan diapit oleh Rafael Da Silva/ Antonio Valencia di “fullback kanan” (juga biasa diisi oleh Phil Jones dan Chris Smalling), dan juga Patrice Evra/ Alexander Buttner di “fullback kiri”. Sisi kanan mungkin lebih aman seiring dengan mulai stabilnya performa Rafael maupun opsi lainnya. Namun di sisi kiri, Evra mulai melambat, sementara Buttner belum menemukan konsistensi. Ini tentu menjadi PR tambahan bagi Opa selain duet bek tengahnya. PR ini bisa terselesaikan jika performa Fabio Da Silva yang sedang dipinjamkan ke Queen Park Rangers mengalami peningkatan.

Lompat ke lini depan! Tidak perlu diragukan lagi, ditariknya Wazza ke tengah tidak menjadi masalah. Masuknya Robin van Persie menambah deretan striker maut MU yang sebelumnya telah dihuni Javier “Chicharito” Hernandez dan Danny Welbeck. Jangan lupakan juga Angelo Henriquez, Federico Macheda (jika tidak jadi dijual), Joshua King, dan Will Keane.

So, kita tunggu saja perkembangan dari pakem baru ini yang semoga saja mampu menghadirkan lebih banyak prestasi dari tim kesayangan kita bersama, Manchester United. GLORY GLORY MAN. UNITED!! ONE LOVE TO UNITED!!

               

Big Fan Of Manchester United

Iklan